Slider

Parel T. J.. Powered by Blogger.
Latest Post

AKIBAT GAJI PENDETA TIDAK MENGIKUTI STANDAR UMR

Written By Parel T. J. on 21 June 2009 | 19:52

Gaji seorang hamba Tuhan, alias pendeta kerap menjadi sebuah topik yang cukup rumit dalam dunia pelayanan rohani. Variabel ini tak jarang menjadi sumber konflik yang cukup menghambat pertumbuhan gereja karena kesejahtraan seorang gembala rupannya tidak dapat diabaikan bila ingin menghasilkan pelayanan yang maksimal. Fakta yang terjadi selama ini adalah sebagian gaji pendeta jarang mengikuti standar Upah Minimum Regional (UMR) seperti perhitungan pemerintah, sementara biaya operasional dan kebutuhan hidup di suatu daerah terus mengalami kenaikan yang variatif. Ternyata ini memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap dunia pelayanan. Akhirnya PHK yang kebanyakan melanda dunia sekular, terjadi juga di kalangan gereja dan organisasi walaupun pemicunya sering dibarengi dengan alasan pengembangan diri dalam dunia pelayanan baru. Namun keunikan PHK yang sedang melanda dunia pelayanan rohani ini kerap dimobilisasi secara personal, dan jarang berasal dari gereja atau organisasi. Jadi secara jujur dapat diungkap bahwa membahas fluktuasi kenaikan gaji di bidang pelayanan sosial seperti ini tidak sama dengan kenaikan gaji pegawai negeri maupun perusahaan swasta yang sifatnya profitable. Masalahnya ialah kerap terjadi konflik yang disebabkan oleh bentroknya antara doktrin dan realita kehidupan yang tidak memiliki singkronisasi serta landasan untuk melakukan kenaikan gaji karena bersifat sosial. Hasilnya, kedua kubu ini tak jarang mengeploitasi amukan yang cukup dahsyat dan akhirnya berujung dengan perang dingin.
Pada suatu sisi, doktrin yang menjadi dasar pelayanan dari beberapa pendahulu kita ini, selalu berimplikasi bahwa seorang pelayan yang mengabdi diri bagi perkerjaan Tuhan harus mengubah mindset-nya dengan pola pikir yang siap menderita, tanpa mencari keuntungan finansial, seperti yang terjadi dalam dunia sekular. Alasan pemikiran ini didasari oleh prinsip bahwa Tuhan akan menyediakan berkat dari berbagai sumber walaupun ia tidak mendapat bayaran dari gereja atau jemaat di mana ia melayani. Jadi menurut mereka bahwa tugas seorang hamba Tuhan adalah memfokuskan diri terhadap pelayanan sebagai kewajiban, tanpa menuntut haknya seperti aksi kaum buruh yang kerap berdemontrasi menuntut kenaikan gaji. Kelihatannya doktrin seperti ini tidak terlalu mementingkan gaji, sementara hak seorang pelayan banyak diungkap oleh beberapa hamba Tuhan seperti Abraham, Yesaya, Daniel, dan beberapa tokoh Alkitab lainnya. Tetapi uniknya, nilai seperti ini masih tertanam dan mempengaruhi konsep pelayanan hingga sekarang. Itulah sebabnya semua pelayan dituntut untuk setia melayani walaupun kondisi perekonomian jemaat yang dilayaninya berada pada level di bawah tingkat menengah. Memang ada beberapa implikasi yang sangat benar dan cukup beralasan untuk mempertahankan model teologi seperti ini. Menurut Pdt. Dr. Daniel Ronda, Th. M., Ketua STT Jaffray Makassar saat diminta untuk memberi komentar terhadap teologi yang terdapat dalam Nyanyian Kemenangan Iman No. 297, baris pertama yang berbunyi: Ku kirim kau kerja dan tak diupah, beliau menyampaikan beberapa pandangan teologis yang membuat dunia pelayanan tidak dapat meninggal warisan teologi seperti ini. Menurutnya, seorang pelayan harus siap memasuki ladang pelayanan dengan konsep siap menderita, tidak dihargai, dan bersedia dibayar rendah. Namun pada sisi lain jemaat yang dilayaninya harus memiliki teologi pelayanan: mensejahtrakan hamba Tuhan. Pendapat ini sungguh memberikan keseimbangan doktrin yang tidak terdapat dalam pemikiran teologi klasik yang cukup dominan mempengaruhi pola pikir gereja. Akhir dari komentarnya, beliau memprotes model filosofi pelayanan masa kini yang cendrung bersifat komersil.
Memang tak dapat dipungkiri, rata-rata pelayanan rohani mulai diukur menurut sistem komersil walaupun selalu dibungkus dengan bias pelayanan. Artinya ada beberapa orang yang menggabungkan diri dalam komunitas hamba Tuhan mulai menciptakan sebuah image bahwa dirinya pantas mendapat bayaran yang tinggi. Apalagi kebutuhan hidup semakin bertambah, yang tak cukup dijawab secara teologis, sering memaksa hamba-hamba Tuhan berterus terang mengenai realita hidup yang sesungguhnya. Cara yang dipakai untuk menyampaikan keluhan seperti ini biasanya melalui refleksi tampilan hidup sehari-hari dan gaya berbicara dalam pelayanan mimbar.
Kenyataan ini mungkin saja mengkondisikan para hamba Tuhan untuk mengambil langkah etis dengan cara memilah-milah jenis pelayanan yang berpotensi menjadi sumber pemasukkan yang mampu membiayai kebutuhan hidup keluarganya. Ini memang sebuah pertimbangan yang sangat manusiawi, namun cukup kualahan juga menghitung konflik yang muncul akibat gesekan terhadap doktrin gereja yang kadang berlainan dengan kenyataan hidup. Untuk mengatasi hal ini, lahirlah berbagai peraturan gereja yang mengurung hamba Tuhan untuk membuatnya dirinya tetap setia pada gereja dan organisasi dimana ia sedang melayani.
Pada sisi lain, pertimbangan ini dicetuskan berdasarkan tugas panggilan yang harus diemban dengan kesiapan menderita dan rela mengorbankan harta, harga diri, serta keluarga sekalipun. Paradigma seperti ini telah menempatkan norma yang tidak seimbang itu pada urutan pertama dalam beberapa doktrin sejumlah gereja. Akhirnya nilai tertinggi yang diinterpretasi melalui kaidah itu patut menjadi model dalam pelayanan mereka, sebagaimana pola dan kehidupan Yesus Kristus yang identik dengan salib. Hasil dari refleksi ini sangat nampak dalam beberapa pesan teologi yang mendominasi dalam sejumlah syair lagu-lagu rohani yang sering menjadi hiburan dan idola di saat mengalami kesulitan ekonomi. Lihat saja, banyak lagu bercerita tentang pengharapan dan kekayaan sorgawi walaupun dalam kenyataannya kita masih menempati dunia yang mamaksa kita untuk tidak melupakan kesejahtraan dan masa depan keluarga.
Dari kerumitan ini muncullah berbagai ragam teologi mengenai gaji pendeta. Ada teologi yang secara radikal memberi indikasi bahwa seorang pelayan dituntut tetap setia dalam melayani Tuhan, meskipun tidak diberi gaji. Ada pula teologi yang kelihatannya mulai menyadari akan realita kehidupan yang cukup dinamis sifatnya. Pola pikir seperti ini mulai menggabungkan konsep pelayanan dan perjanjian berkat Allah. Nampaknya segala kebutuhan jasmani tidak lagi dihadapi dengan iman saja tetapi mulai diukur dengan uang. Orang yang terlibat dalam pelayanan hari ini pun rupanya mulai memikirkan sumber penghasilan yang akan mereka terima setelah berhenti melayani, alias pensiun. Pasalnya banyak fakta membuktikan bahwa realita kehidupan hamba Tuhan tidak seperti nasib seorang pegawai negeri yang juga melayani Tuhan dalam bidang pelayanan sekular.
Sadar atau tidak, inilah perkara jasmani yang hingga saat ini masih kurang diaplikasikan ke dalam beberapa pengajaran teologi kita. Padahal Tuhan Yesus sendiri berkata, ”Seorang pekerja layak mendapat upah” (Matius 10:10; Lukas 10:7). Tentu ayat ini sedang membicarakan penghasilan yang pasti diperoleh seorang yang sedang melayani Tuhan. Oleh karena itu, seharusnya ayat ini mengingatkan jemaat Tuhan untuk membangun sebuah teologi Alkitabiah mengenai kesejahteraan hamba Tuhan sehingga kinerja mereka tetap terfokus pada rencana pelayanan untuk membina iman jemaat. Itulah sebabnya seorang hamba Tuhan seharusnya bisa lebih berkualitas untuk menyediakan santapan rohani yang sehat bagi jemaatnya, asalkan orientasi pelayanannya tidak diganggu oleh masalah kebutuhan jasmani yang selama ini diabaikan oleh doktrin kita. Dalam wawancara melalui email, Pdt. Priskila Paksoal, M. Div banyak memberikan komentar mengenai penghasilan hamba Tuhan. Beliau berpendapat bahwa seorang hamba Tuhan harus mampu memberikan pelayanan yang membuat dia layak dibayar, tanpa harus meminta. Dengan kata lain, pelayanan harus menyentuh kebutuhan primer dan mampu menolong jemaat untuk mengenal Sang Pencipta sumber dari segalanya. Ia mempu menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Jangan merengek untuk dibayar, tetapi buktikan bahwa tanpa hamba Tuhan melayani di sana, sesungguhnya uang tidak akan masuk ke organisasi itu, tuturnya.
Jadi sebagai seorang yang dipanggil khusus untuk melayani Tuhan, seharusnya kita mengenal hak kita sebagai seorang anak Tuhan, karena Tuhan tidak pernah lupa akan perjanjian berkat yang Ia sampaikan melalui firman-Nya. Namun benturan kenyataan hidup dan pola pikir yang selama ini membuat kita seolah-olah tidak memiliki hak apapun, telah membangun indikasi dan teologi klasik yang cukup mengganggu pengembangan pelayanan hari ini. (Parel)

SEORANG HAMBA TUHAN DIVONIS HUKUMAN MATI

Hanya karena tersinggung mendengar khotbahnya, seorang pengusa Yahudi langsung menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Yohanes. Hamba Tuhan yang juga dikenal sebagai Pembabtis ini, ditangkap saat sedang menjalankan misi penyelamatan kepada bangsa Israel. Semula vonis itu hanya berupa hukuman penjara seumur hidup, namun karena desakan Herodias, isteri sang penguasa itu, akhirnya hukuman kepada Yohanes berujung dengan eksekusi mati dengan cara dipenggal. Ternyata menjadi seorang pemberita Injil, seperti Yohanes Pembabtis, identik dengan membawa diri ke dalam masa tribulasi. Meskipun merasa bahagia dalam menjalankan misi ini karena terbuai dengan panggilan sukacita dari Sang Khalik, ternyata tugas yang satu ini banyak bercerita tentang sejarah yang menyedihkan.
Tragedi ini bermula ketika bangsa Israel mengklaim dirinya sebagai keturunan Abraham dan mengira bahwa mereka tidak mungkin ditimpa oleh murka Allah. Tetapi Yohanes membantah dan menyatakan bahwa kehidupan mereka sedang dirundung oleh krisis rohani yang sangat parah. Menurut pendapat hamba Tuhan ini bahwa semua pemimpin agama beserta jajaran pemerintah tidak lagi menjalankan undang-undang teokrasi yang berlaku bagi setiap umat pilihan Tuhan, sehingga kehidupan moral dan hubungan mereka dengan Tuhan mengalami degradasi yang cukup tajam. Fakta ini membuat Yohanes menenggur mereka dengan keras dan menyatakan bahwa hak istimewa yang didasarkan pada ras keyahudian mereka sama sekali tidak berguna di hadapan Allah. Itulah sebabnya Yohanes datang dengan sebuah perintah Ilahi, “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan dan luruskanlah jalan bagi-Nya (Luk 3:4).” Melalui visi ini, Yohanes mengharapkan agar bangsa Israel bertobat dan mempersiapkan hati untuk menyambut kedatangan Mesias sehingga status keyahudian mereka dipandang layak oleh Sang Raja.
Namun menghadapi bangsa yang telah lama hidup dalam tradisi Yahudi dan merasa cukup ahli dalam hukum Taurat ini, jelas menuai banyak konfrontasi ketika Yohanes menyampaikan kebenaran, apalagi dikala ia meminta mereka untuk bertobat dan dibabtis, sungguh merupakan sebuah permintaan yang menurunkan derajat sosial dan harga diri mereka. Buktinya, sang penguasa Yahudi yang bernama Herodes Antipas ini, sempat melakukan somasi terhadap Yohanes Pembabtis karena pengajarannya dianggap sebagai gerakan yang akan memicu terjadinya pembrontakan rakyat kepada para pemimpin Yahudi. Ia takut bila Yohanes mengkudeta dirinya melalui penggalangan massa di tepi sungai Yordan, padahal aksi itu merupakan sebuah kegiatan sakramen babtisan yang biasa dilakukan kepada semua orang yang ingin bertobat.
Rekayasa ini hanya merupakan strategi politik Herodes Antipas untuk menggiring Yohanes Pembabtis ke persidangan. Walaupun motif penangkapan Yohanes Pembabtis dinilai tidak sesuai dengan perundangan yang diatur oleh Allah, namun kemunculan Yohanes Pembabtis dalam komunitas Yahudi rupanya mengusik kekuasaan penguasa Galilea ini karena idealismenya cukup terancam akibat ideologi baru yang bertebaran dalam mindset orang Yahudi.
Akhirnya niat untuk menjebloskan Yohanes Pembabtis ke dalam penjara tercapai juga melalui konspirasi politik dengan para pemimpin Yahudi yang sepakat menyalahkan Yohanes atas perkataannya yang menyebutkan, “Para pemimpin Yahudi adalah keturunan ular beludak.” Merasa tudingan itu menghancurkan wibawanya, Herodes Antipas langsung menggelar sidang dan menetapkan status terdakwa kepada Yohanes Pembabtis atas kasus penghinaan dan pencemaran nama baik. Anak dari pasangan Zakharia dan Elisabeth ini, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun Herodias menilai keputusan itu kurang memuaskan, ia ingin agar Yohanes dihukum mati untuk membalas perbuatan nabi pertama dalam Perjanjian Baru itu karena ia pernah mengutuk pernikahannya dengan Herodes Antipas. Herodias merasa, apa pun yang dilakukan oleh Herodes Antipas, termasuk menikahi dirinya, merupakan hak preogatif seorang raja. Rakyat biasa tidak berhak menyampaikan kritik, apalagi menegur kesalahan para pemimpinnya. Namun hukum Taurat berbicara lain. Menurut keterangan dari Yosephus, seorang sejarawan Yahudi bahwa pernikahan keduanya dinyatakan melanggar peraturan dan undang-undang perkawinan yang ditetapkan dalam kitab undang-undang hukum Taurat yang disahkan Tuhan secara langsung di gunung Sinai. Keduanya melanggar pasal 20, ayat 17, dari Kitab Kejadian tantang perkawinan, yang berbunyi, “Janganlah mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.” Yohanes menilai bahwa pernikahan Herodias dan Herodes Antipas termasuk sebuah inses (perkawinan saudara) yang tergolong perbuatan lalim, karena pada kenyataannya Herodias sendiri merupakan saudara tiri sekaligus keponakan Herodes Antipas. Bahkan dalam tradisi Yahudi, perbuatan seperti ini dianggap mencemarkan kekudusan umat Tuhan.
Namun karena Yohanes telah dinyatakan bersalah, Herodias berusaha mempropokasi keadaan tersebut dan memaksa pria yang baru saja menikahinya itu untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Yohanes Pembabtis sebagai aksi balas dendam.
Sebagai masyarakat biasa yang hidup dalam sistem pemerintahan monopoli, jelaslah Yohanes tidak memiliki payung hukum untuk melindungi dirinya dari gugatan Herodes Antipas. Ibarat hukum rimba, yang lemah akan menjadi hamba yang kuat, marjinal ini membuat Yohanes tidak bisa berkutik dan membela diri sekalipun ia berada dalam posisi yang benar. Hingga kepalanya dipenggal, tidak ada seorangpun yang datang untuk memberi bantuan hukum kepada Yohanes Pembabtis.
Sesungguhnya kematian martir ini telah menjadi tanda pengorbanan yang mengingatkan kita akan penderitaan dalam memberitakan Injil demi mempersiapkan kedatangan Sang Mesias, Raja semesta alam. Itulah visi yang harus dicapainya, sehingga pada waktu kelahiran Mesias, Sang Juruselamat, semua orang yang telah dipilih menjadi umat Allah didapati berkenan kepada-Nya (Luk 1:17). Ia telah mengakhir pertandingan dengan baik dan kematiannya merupakan awal dari sebuah misi penyelamatan.
Sekarang tugas misioner yang pertama kali dilakoni oleh sang nabi ini, kembali dibebankan kepada kita yang telah diselamatkan Allah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias yang kedua kali. Namun ketika kita melihat runtutan kisah yang menyedikan seperti yang dialami oleh Yohanes Pembabtis, tidak sedikit orang merasa kuatir menjalani tugas yang mulia ini. Memang Tuhan Yesus sudah mengingatkan, dunia akan membenci kamu karena nama-Ku, tetapi kepada setiap orang yang mengalami kenyataan seperti itu, kepada mereka, Tuhan Yesus berkata, berbahagialah kamu yang dianiyaya karena kebenaran, karena kamu akan memiliki Kerajaan Sorga (Matius 5:10-11).
Semenjak zaman Yohanes Pembabtis, tidak sedikit tragedi penganiyayan yang menelan korban jiwa akibat Injil Yesus Kristus. Namun herannya, di mana peristiwa semacam itu terjadi, justru di sanalah Injil Yesus Kristus berkembang pesat. Bahkan sejak abad permulaan, ribuan martir dibunuh oleh kaisar-kaisar Romawi. Tetapi tidak satupun penganiyayaan besar itu mampu membendung perkembangan Injil ke berbagai penjuru dunia. Hal inilah yang membuat Kaisar Konstantin melakukan retrospeksi diri sehingga pada abad yang ke-4 ia bertobat dan mempersembahkan kehidupannya kepada Kristus.
Hingga saat ini, sejarah membuktikan juga bahwa tidak sedikit orang yang semula membenci Dia kemudian berbalik menjadi orang yang sangat mencintai Dia. Sebagai bukti, pada tahun 633 M, Afrika Utara, Palestina, dan Asia Kecil (Turki) dikenal sebagai wilayah yang tertutup bagi Injil Yesus Kristus. Banyak rumah ibadah dihancurkan dan jutaan orang dianiyaya. Keadaan ini memaksa gerakan misi gereja pindah ke Eropa Barat. Namun pada abad ke-18 Tuhan menggerakkan Kaum Pietisme untuk mengabarkan Injil, sekaligus menjadi pelopor gerakan moderenisme. Aksi Kaum Pietisme ini terlihat cukup majemuk dan memiliki akses ke berbagai gereja Eropa hingga belahan dunia lainnya. Akhirnya gerakan penyegaran rohani gereja Lutheran yang berfokus kepada pemberitaan Injil ini rupanya membakar semangat William Carey untuk mendirikan Modern Global Mission yang berpusat di Inggris, Eropa Barat, dan Amerika Utara. Melalui badan misi inilah, Injil mulai mengelilingi dunia hingga ke wilayah Afrika dan Asia. Pada masa itu, lawatan Tuhan mulai dinyatakan kepada Asia dan Afrika yang nampak dalam kebangunan rohani di berbagai negara bagian. Sehingga sejak 1970 hingga 1982, Badan Misi Dunia mencatat sekitar 15.249 misionaris yang berasal dari Afrika dan Asia. Perkembangan ini membuktikan bahwa Injil Yesus Kristus memiliki kekuatan besar yang tidak dapat dihentikan oleh apa pun.
Walau dihimpit dengan kesengsaraan dan penyiksaan yang dasyat, banyak orang berani bersaksi tentang Injil Yesus Kristus. Bukan mereka tidak mengerti bahwa mereka sedang diutus ke tengah serigala untuk mencari domba-domba Allah yang hilang karena mencari jalannya sendiri.. Tetapi karena kasih kepada-Nya, banyak orang yang rela mati bagi Dia. Meskipun perjalanan misi mereka diselingi dengan airmata dan kematian, mereka tetap yakin kepada pengharapan yang dikatakan Tuhan Yesus, “…Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.” (Markus 8:35). Inilah sebuah sukacita yang sesungguhnya.
Oleh sebab itu, dimana pun kita berada jadilah saksi Kristus yang berani memberitakan kebenaran. Semua martir yang menderita, termasuk Yohanes Pembabtis sangat mengerti bahwa mereka akan menghadapi banyak kontroversi dalam pemberitaan Injil. Namun semua penganiyayaan itu tidak membuat mereka gentar, apalagi menyerah. Mengapa? Karena mereka tahu, Inji Yesus Kristus yang dikabarkan kepada dunia merupakan mata air yang terus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Parel)

Hamba Tuhan Bukan Superman

Resiko memasuki dunia pelayanan rupanya mengharuskan seorang hamba Tuhan menanggalkan hak dan memangkas sebagian keinginan manusiawinya demi pelayanan. Tuntutan jemaat yang begitu besar terhadap hamba Tuhan benar-benar menguras seluruh totalitas hidupnya hingga tak tersisa. Standar yang ditetapkan tak tanggung-tanggung, harus sempurna 100%, tanpa cacat cela. Ini memaksa hamba Tuhan harus bekerja maksimal sekalipun keluarga dan masa depannya dianggap urusan Tuhan. Tetapi pada kenyataannya banyak anak hamba Tuhan yang kurang mendapat perhatian dan menjadi troble maker, bahkan menghancurkan pelayanan. Tak jarang pula ada hamba-hamba Tuhan di beberapa sinode gereja menderita karena kurang mempersiapkan masa depan sehingga tidak memiliki tempat bernaung di hari tua.
Panggilan menjadi hamba Tuhan memang tak sama dengan bekerja sebagai direktur dalam sebuah perusahaan sekular. Selain gajinya tinggi, bila bosan dengan pekerjaan tersebut, dapat mencari kerjaan lain yang lebih menyenangkan. Tetapi panggilan sebagai hamba Tuhan tidak demikian, ia harus setia pada pelayanannya. Walau dalam misinya, sering terjadi masalah, kesulitan, cobaan yang kadang membuatnya tergelincir, ia harus tetap setia. Bahkan bila saya membela hamba Tuhan dengan berkata, ”hamba Tuhan juga manusia” maka akan banyak orang yang tidak setuju dan berkata bahwa walaupun mereka adalah manusia biasa, karena panggilannya menjadi pendeta, maka mereka harus mempunyai kualitas hidup yang melebihi jemaat biasa. Namun ketika hamba Tuhan harus dituntut sempurna seperti Yesus, kerap kali muncul perbedaan yang nyata bahwa hamba Tuhan dan Yesus memang berbeda. Menjadi sulit untuk dimengerti bahwa hamba Tuhan bukanlah Yesus, yang adalah Tuhan. Hamba Tuhan adalah manusia yang dilahirkan dengna tabiat dosa, yang masih hidup dalam dunia yang penuh dengan hawa nafsu. Tetapi Yesus dilahirkan dari Roh Kudus. Inilah yang terkadang digunakan sebagai dasar untuk mengakui dan memaklumi bahwa hamba Tuhan adalah manusia biasa. Bahkan Yesus yang lahir dari Roh Kudus pun dianggap bersalah oleh beberapa pemuka agama Yahudi karena pemberitaan dan pengajaran-Nya berlawanan dengan anggapan mereka. Tetapi Yesus tetap melaksanakan misi-Nya sesuai dengan tujuan dan maksud Allah. Jadi siapakah hamba Tuhan bila dibandingkan dengan Yesus? Mereka tentu sering mendapat pujian atas kerja kerasnya, tetapi bila dianggap tidak mampu memberi pelayanan yang maksimal dan kepuasan rohani bagi jemaat yang dilayaninya, mereka akan menuai caci maki dan dianggap tak berguna. Terkadang dibilang mata duitan, diktator, kurang produktif, pemalas, gila jabatan, dan berbagai kata yang kurang enak didengar. Tetapi biasanya beberapa hamba Tuhan bisa menerima lebel semacam ini dengan senang hati dan ucapan syukur karena ia ingin membuktikan komitmen dan kesetiaannya dalam melayani. Malahan tudingan seperti itu justru memaksa dia untuk semakin berkorban demi kesejahteraan jemaatnya. Sampai-sampai ia tidak memiliki waktu khusus buat keluarga karena semuanya tersita bagi pelayanan.
Saya masih ingat kisah seorang hamba Tuhan yang melayani di sebuah gereja, ia dituntut datang ke gereja tepat waktu, sedangkan ia tidak diberi diberi kendaraan dan rumah tinggal yang dikontrakkan kepadanya berjarak sangat jauh dari gereja. Namun ia dituntut untuk menyanggupi jadual pelayanan. Memang satu hingga dua bulan pelayanan itu berjalan lancar, tetapi setelah isterinya melahirkan ia sering terlambat ke gereja. Semua orang mempersalahkannya dan mengatakan bahwa ia tidak terampil dalam mengatur waktu. Karena tuntutan itu, ia berusaha untuk meninggalkan anak dan isterinya di rumah dengan maksud mengutamakan pelayanan. Hingga suatu hari anaknya terserang penyakit diare dan kelihatannya ia cukup kritis karena kekurangan cairan. Sementara hamba Tuhan ini harus pergi melayani. Ia terpaksa membiarkan isterinya berjuang sendiri dan hanya berdoa bagi anaknya. Semua ini ia lakukan karena tuntutan pelayanan. Akhirnya anak sulung yang ia kasihi tak dapat tertolong lagi dan meninggal dunia. Sebagai seorang hamba Tuhan yang memiliki perasaan manusiawi, ia cukup sedih dan merasa terpukul. Karena pengorbanannya bagi pelayanan, ia harus kehilangan anak yang akan memelihara dan menjadi kebanggaannya di masa depan. Sebagian besar orang bangga karena pengorbanannya. Ia dianggap pahlawan dalam melayani. Tetapi sesungguhnya ia melayani dengan jiwa yang hancur dan perasaan hati yang berantakan. Hanya karena ia menyadari bahwa ia tidak boleh sedih di depan jemaatnya, maka dari itu ia mamaksa diri untuk mencipta sebuah situasi bahwa seolah-olah ia sedang berada dalam sukacita yang melimpah.
Kasus seperti di atas banyak terjadi dalam kalangan gereja-gereja. Bahkan kasus yang berbeda dari kisah ini pun sering berdengung di mana-mana. Untuk menjauhkan hamba Tuhan dari kisah yang terjadi di atas, sudah sepantasnya kita memperhatikan dan menolong hamba Tuhan dengan fasilitas yang memungkinkan. Terkadang tuntutan yang diberikan kepada hamba Tuhan tidak sebanding dengan kemampuan yang ia miliki akibat keterbatasan fasilitas dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk melayani. Terlalu sering anggota jemaat meminta hamba Tuhan untuk menghibur dan mendoakan tanpa memperhatikan waktu dan kepentingan seorang hamba Tuhan. Ingatlah bahwa mereka bukan karyawan dan pembantu jemaat, tetapi mereka pembantunya Tuhan. Tetapi sering saya melihat jemaat dan majelis memperlakukan hamba Tuhan seperti seorang yang tidak memiliki hak apa-apa.
Walaupun hamba-hamba Tuhan memiliki berbagai keterbatasan, hamba Tuhan adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan dan misi-Nya. Bila jemaat dan majelis menyadari dan mengetahui kekurangan hamba Tuhan ini, seharusnya dibantu dan dilengkapi demi membangun kesatuan tubuh Kristus, bukan diberi lebel dan tudingan yang sifatnya menjatuh harga diri hamba Tuhan.
Pendeta dan hamba Tuhan bukan Superman, Hercules, Robot, dan sejenisnya. Mereka adalah manusia lemah yang dituntut menjadi manusia sempurna. Sesungguhnya mereka membutuhkan dukungan dan doa dari jemaat. Pernahkan anda memikirkan hal itu? Kita selalu menuntut hamba Tuhan agar ia setia mendoakan kita, tapi pernahkan Anda berdoa untuk hamba Tuhan yang melayani Anda sebagaimana yang oleh jemaat mula-mula kepada Rasul Petrus ketika ia ditahan dalam penjara (Kis 12:5). Kiranya kita dapat memberikan yang terbaik bagi hamba Tuhan agar ia dapat melayani dengan sukacita dan tidak merasa kuatir dengan masa depannya. Ingatlah pesan Yesus, ”Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Matius 10:42) (Parel)

KISAH SEORANG BUDAK MENJADI PERDANA MENTERI MESIR

(Sebuah Refleksi Tentang Kuasa Pengampunan)

Mengampuni memang bukan perkara mudah. Sifat ini terbilang sulit karena pengendalian diri cendrung digilas saat keakuan manusia memuncak tajam. Kehendak untuk membalas kerap memaksa egoisme diri memuaskan keinginannya. Tak tanggung-tanggung, ukurannya harus dinilai seimbang dengan kesalahan yang pernah dilakukan.
Namun sosok yang satu ini sedikit berbeda dengan beberapa kasus ”portal” yang sering menjadi incaran para kuli tinta di tanah air. Alasannya, kisah pertengkaran yang membludak di layar kaca dan media cetak ini berhasil mencuri sikap apatis dan sentilan tajam dari masyarakat. Tetapi lain dengan Yusuf, pemuda tampan yang pernah diberitakan oleh seorang jurnalis melalui salah satu media di dalam Perjanjian Lama. Kepribadiaannya yang tahan banting terhadap perlakuan kasar dan niat jahat saudara-saudaranya telah membentuk Yusuf menjadi seorang petarung sejati hingga menduduki jabatan terhormat dalam kerajaan Mesir.
Di awal kisahnya yang tak asing lagi bagi kita, Yusuf diberikan jubah yang maha indah oleh ayahnya, Yakub. Perlakukan Yakub seperti ini rupanya memancing kebencian dari saudara-saudaranya. Apalagi Yusuf menambah rasa dongkol itu dengan menceritakan mimpinya yang seolah-olah memojokkan dan menurunkan harga diri mereka. Akhirnya rasa kedegilan ini menimbulkan rencana pembunuhan terhadap si tukang mimpi itu. Tetapi Ruben, putra sulung Yakub sempat mencegah niat itu dan mengusulkan agar Yusuf dibuang ke dalam sumur kering, yang berjarak tidak jauh dari mereka. Namun usul itu tak digubris oleh saudara-saudaranya yang lain. Selang beberapa saat, mereka menjual Yusuf kepada para saudagar Ismael yang sedang menuju ke Mesir. Akhirnya Yusuf digiring ke sana dan menjadi budak Potifar.
Perlakuan saudara-saudaranya sungguh dipandang sebagai kekerasan psikologi maupun fisik oleh sebagian penafsir. Walaupun mimpi yang disampaikan Yusuf merupakan nubuat dari Tuhan mengenai masa depan keluarga dan nasib bangsa Kanaan, tetapi saudara-saudaranya sulit menerima penjelasan ilahi itu karena sifat iri hati masih menguasai jiwa mereka.
Akibat keegoisan saudara-saudarannya, Yusuf harus rela kehilangan kasih sayang dan berjuang sendiri demi kelangsungan hidupnya. Tetapi kepergian Yusuf ke Mesir justru merupakan rencana Tuhan. Di tanah Firaun ini, Tuhan mulai menggenapi nubuat yang Ia wahyukan dalam mimpi Yusuf. Walaupun membutuhkan waktu yang sangat panjang dan melewati proses yang menyakitkan, Yusuf tetap menghormati Allah. Ia tidak pernah mempersalahkan Allah karena kesengsaraan dan perlakuan kejam dari saudara-saudaranya. Ia tetap yakin bahwa Allah pasti memberkati masa depannya. Itulah sebabnya ia sangat gigih melawan dosa dan menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang memiliki intergritas. Meskipun ia sempat dijebak berkali-kali oleh perlakuan tak senonoh dari Isteri Potifar, Yusuf tetap membuktikan diri sebagai seorang Kanaan yang sangat menghormati Allah. Hingga ia kembali menginap di balik jeruji besi gara-gara tudingan palsu sang Isteri Potifar, Yusuf tetap mendapat kasih dan kemurahan Allah. Buktinya, kepala penjara menjadikannya seorang kepercayaan yang mengurus seluruh tahanan. Tak hanya itu saja, Tuhan memberi kepada Yusuf karunia untuk menafsirkan mimpi.
Kemampuan ilahi ini mulai terlihat sejak Yusuf menafsirkan mimpi kedua pelayan istana Firaun yang dijebloskan ke dalam penjara. Tafsiran mimpi yang diungkap oleh budak asal Kanaan ini, sangat tepat dengan kejadian yang menimpa kedua pelayan itu. Akhirnya bakat supranatural inilah yang menggiringnya menuju kursi terhormat dalam istana Firaun. Pasalnya, ia tercatat sebagai orang bijaksana diantara seluruh orang pintar dalam kerajaan Firaun. Ia mampu menafsirkan mimpi sang raja. Tanpa menunggu lama, Firaun langsung mengangkatnya menjadi penguasa seluruh Tanah Mesir dan memberi wewenang kepadanya untuk mengatur segala kekayaan dalam kerajaan Mesir. Dalam hitungan detik, mandadak saja aura sang budak Ibrani ini mulai berubah warna. Betapa tidak, hampir setiap hari ia mengelilingi seluruh Mesir dengan kereta kencana pemberian Raja Firaun untuk melakukan pengawasan dan pengumpulan bahan makanan guna menghadapi 7 tahun masa kelaparan yang disampaikan Tuhan dalam mimpi Firaun. Sejak masa kejayaannya, nubuat yang pernah diberikan Tuhan melalui mimpi Yusuf satu persatu mulai digenapi.
Di masa kejayaan Mesir, Yusuf meminta semua penduduk kota mengumpulkan makanan di lumbung kerajaan sebagai deposito untuk menghadapi masa kelaparan. Kebijakan yang dilakukan Yusuf sungguh membuktikan bahwa ia merupakan seorang manejer visioner yang melebihi Firaun. Boleh dikatakan bahwa ia adalah seorang pengamat ekonom yang tidak hanya melakukan analisis terhadap faktor-faktor ekonomi semata, tetapi ia mempu mengakurasikan krisis ekonomi global dengan kaca mata ilahi sehingga bencana yang akan menimpa penduduk Mesir dan Bangsa Kanaan nampak transparan dalam pandangan Yusuf. Kepekaannya dalam membaca tanda yang diberikan oleh Sang Khalik ini membuat Yusuf memiliki nilai khas lebih dari para ahli nujum yang biasa menjadi andalan Firaun. Tak ketinggalan, keahliannya sebagai seorang Master of Change (pengendali perubahan) sungguh menonjolkan kecakapan Yusuf dalam memelihara kejayaan Mesir dibanding pegawai kerajaan lainnya. Ia mampu memanajemeni perubahan yang dipastikan akan berdampak buruk bagi strata sosial dan ekonomi masyarakat Mesir dan sekitarnya. Itulah sebabnya ia mengantisipasi hal tersebut sebelum terjadi. Solusi yang dilakukan Yusuf membenarkan pendapat seorang CEO Microsoft yang bernama Bill Gates. Pengusaha ini mengatakan bahwa suka atau tidak suka, perubahan pasti terjadi. Oleh karena itu, jangan pernah menunggu perubahan memaksa kita untuk berubah, melainkan kita harus memanfaatkan perubahan. Hasilnya, seluruh orang menghormati Yusuf oleh karena kebijaksanaannya, walaupun ia pernah dijadikan budak dalam kekuasaan Potifar.
Inilah kasih karunia dan rahmat yang Tuhan nyatakan kepada orang yang selalu menghormati dan menghargai Dia. Tuhan mulai menunjukkan kebenaran tentang mimpi Yusuf dalam Kejadian 37:6,9. Tuhan telah memberitahukan bencana kelaparan yang akan menimpa keluarganya. Bahkan tak hanya itu saja, Tuhan juga memberitahukan bahwa Yusuf telah dipilih Tuhan untuk mengatasi bahaya kelaparan itu. Tetapi saudara-saudaranya, termasuk Yakub tidak bisa menerima arti mimpi itu karena budaya sulung yang melekat kuat dalam identitas mereka. Budaya ini sangat mengistimewakan atau menempatkan anak sulung pada posisi tertinggi setelah kedudukan sang ayah. Alasannya karena anak sulung menggambarkan kedudukan terhormat dalam keluarga. Ia merupakan lambang kegagahan ayahnya dan selalu mendapat warisan dua kali lipat lebih banyak dari anak-anak yang lain (Kej 49:3; Bil 21:17). Selain itu, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab atas ibu dan saudara-saudaranya pada waktu ayahnya meninggal. Buktinya terlihat pada waktu Ruben, putra yang paling sulung dari anak-anak Yakub mendengar bahwa Yusuf hendak dibunuh oleh saudara-saudaranya. Ruben berusaha menyelamatkan Yusuf dengan memberi saran agar adiknya ini jangan dibunuh tetapi dibuang ke salah satu sumur kering yang ada di dekat mereka. Ruben bermaksud untuk membawa Yusuf kembali ke rumah ayahnya karena ia harus bertanggung jawab kepada Yakub bila terjadi sesuatu pada Yusuf (Kej 37:21-22). Jadi tradisi ini juga yang membuat mereka sulit mengakui bahwa Yusuf akan menjadi pemimpin atas diri mereka sesuai dengan arti mimpi yang dicerna oleh Yakub (Kej 37:10). Mereka berpikir bahwa hak kepemimpinan itu seharusnya jatuh di tangan Ruben, bukan Yusuf.
Meskipun Yakub dan saudara-saudara Yusuf menolak kejadian itu dan melakukan kekerasan terhadap Yusuf, keputusan Tuhan tetap dilaksanakan. Ia telah memilih Yusuf sebagai perdana menteri di Mesir untuk membenarkan mimpinya bahwa seluruh berkas gandum saudara-saudarannya sujud menyembah kepada berkas gandum Yusuf, artinya Allah telah mengutus Yusuf berjalan mendahului keluarganya di Mesir untuk memelihara kehidupan mereka dari bahaya kelaparan (Kej 45:5). Bukan hanya itu saja, matahari, bulan, dan bintang sujud menyembah Yusuf. Artinya seluruh penduduk Mesir dan Kanaan dikuasai oleh Yusuf. Ia menjadi orang yang sangat dihormati karena kebijaksaannya. Dalam posisi yang seperti ini, Yusuf sangat berpotensi untuk membalas semua kesalahan saudara-saudaranya. Tetapi ia tidak melakukannya karena ia telah menyadari bahwa Allah menghendaki semua itu terjadi.
Sebaliknya, pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya sangat mengharukan. Apalagi ketika melihat Benyamin, Yusuf tak dapat menahan air matanya oleh karena kerinduan yang sangat mendalam kepada saudara kandungnya ini. Yusuf merasa bahwa ia tidak memiliki niat sedikitpun untuk membalas kekerasan saudara-saudaranya yang pernah menghancurkan kehidupan Yusuf di masa lalu. Malahan ia menjamin kehidupan keluarga mereka selama kelaparan melanda Mesir. Bahkan pengusa Mesir ini memberi Tanah Gosyen sebagai tempat kediaman mereka karena tanah ini sangat cocok dengan profesi mereka sebagai gembala. Selain itu, daerah ini juga luput dari tulah-tulah yang pernah menimpa Mesir pada waktu Bangsa Israel menjadi budak di sana (Kel 8:22; 9:26).
Kehidupan Yusuf yang berintegritas dan dikenal sebagai sosok seorang pengampun, memberi contoh bahwa kita harus mengampuni kesalahan yang pernah dilakukan orang lain terhadap kita. Bila sekarang merupakan masa raya paskah, dimana kita memperingati pengorbanan Yesus di kayu salib untuk menebus diri kita dari dosa, maka tidak ada alasan bagi kita untuk membalas kesalahan yang pernah dilakukan kepada kita. (Parel)

Yohanes Kalvin

Mengubah sebuah kesalahan memang bukan perkara mudah, apalagi kesalahan itu berhubungan dengan doktrin gereja yang merupakan wadah umat nasrani menggantungkan seluruh kehendak relegiusnya. Dalam keutuhan gereja, fungsi doktrin selalu menjadi sebuah gambaran dan citra diri yang harus dijaga sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Allah. Namun bila pedoman yang Allah tetapkan didekati dengan cara tafsir yang salah, maka nilai hidup akan mengalami distorsi dan tidak gampang mengadakan perubahan.
Tragedi semacam ini sempat melanda gereja di abad ke-16 akibat pendekatan interpretasi yang saling kontradiktif. Pertentangan antara Yohanes Kalvin dengan kepausan gereja pada waktu itu menyangkut berbagai doktrin, diantaranya predestinasi, perjamuan kudus, sistem pemerintahan, dan beberapa doktrin penting lainnya. Hasil dari pertentangan ini tak lagi dapat membendung lahirnya perpecahan yang merongrong citra diri gereja sebagai tubuh Kristus. Tampaknya tembok pemisah ini akan segera melahirkan berbagai organisasi baru yang diatur secara terpisah namun tetap mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.
Ribuan tahun telah berlalu, tak sedikit denominasi gereja yang pada bermunculan dan sangat mengagumi ajaran Yohanes Kalvin. Ia telah memberi pengaruh besar bagi dalam gereja dan sistem pemerintahan yang hampir merambah ke seluruh benua di dunia. Ketegaran dan semangat juangnya telah membuat kehidupan sang reformator ini tetap berjaya dalam hati ribuan umat manusia. Sesungguhnya ia adalah insan yang hidup dalam goresan tangan setiap pemimpin dunia. Teologi dan philisofi hidupnya turut mendapat andil dalam membangun pola dasar dalam berbagai sisi kehidupan.
Bila ditelusuri, karya besar ini telah tersingkap dalam kehidupan Yohanes Kalvin sejak masa kecilnya. Karisma yang dikaruniai kepadanya semakin dipertajam walaupun ia hanya seorang anak desa yang tinggal di sebelah utara kota Paris, Prancis. Niatnya untuk belajar telah membuat anak dari pasangan Gerard Cauvin dan Jeanne Lefranc ini semakin lihai dan terampil di usianya yang ke-12 tahun. Apalagi ditunjang dengan pendidikan elementer yang ditempuhnya dalam istana bangsawan Noyon, Manor karena ayahnya memiliki hubungan erat dengan keluarga bangsawan. Tak heran, anak kelahiran 10 Juli 1509 ini selalu memperlihatkan nilai-nilai kebangsawanan yang mempengaruhi strata sosialnya. Status quo semacam ini selalu membuatnya berada pada posisi terpandang sehingga ia dengan mudah mendapat pekerjaan dan memiliki pengasilan di usia yang masih terhitung remaja. Bahkan dengan penghasilan itu Kalvin mampu membiaya kuliahnya di Collage de la Marche Paris. Di sekolah ini ia belajar retorika dan bahasa Latin dari seorang ahli bernama Marthurin Cordier. Kemudian ia pindah ke Collage de Montague untuk belajar filsafat dan teologi bersama dengan temannya, Ignatius dari Loyola, yang kini menjadi musuh besar dalam gerakan Reformasi. Keputusan untuk belajar teologi menimbulkan prasangka di hati ayahnya yang semula tidak menginginkan Kalvin menjadi seorang imam. Alasan ini membuat ayahnya terpaksa memindahkan Kalvin ke Universitas Orleans untuk belajar ilmu hukum. Di universitas tersebut ia juga belajar bahasa Yunani dan Ibrani. Sehingga bukan hanya ilmu hukum yang dipelajarinya, tetapi ia juga semakin mengetahui filsafat Yunani dan Yahudi yang memberi peluang baginya untuk masuk ke dalam dunia teologi Alkitab sebagai sumber literatur dari kedua bahasa itu. Rupanya cara seperti ini telah dirancang oleh Sang Khalik untuk mempersiapkan Kalvin menjadi seorang Reformator gereja, sekaligus berperan dalam sistem tata negara sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya. Sehingga tak heran bila Kalvin menjadi seorang sangat fanatik dalam pembaharuan dan penataan gereja reformasi yang dipimpinnya karena ia menekankan ketertiban dan keteraturan gereja menurut perspektif ilmu hukum. Bahkan dalam beberapa ajaran yang ditulisnya, banyak dibicarakan tentang doktrin gereja yang diungkap secara logis untuk menentang penyesatan yang melanda gereja pada masa itu. Selain buku Religionis Christianae Institutio yang terkenal sebagai buku dokmatika dalam gereja-gereja Calvinis, ia juga menulis salah satu buku teologi yang berjudul Psychopanychia. Buku ini ditulis untuk menentang ajaran Anababtis yang mengajarkan bahwa sesungguhnya jiwa manusia itu tidur hingga Kristus datang kembali.
Selain melahirkan banyak karya di bidang literatur, Kalvin juga aktif melakukan demonstrasi dalam berbagai forum dan pertemuan akbar untuk menyuarakan gagasan reformasinya. Ia banyak memberi protes terhadap sistem pemerintahan paus dalam gereja maupun negara. Sehingga istilah gelar ”Kristen Protestan” yang sempat menjadi lebel para pengikut Marthin Luther, kini semakin menguak akibat dipicu oleh aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh pengikut Kalvin. Hasilnya terbentuk sebuah organisasi yang disebut Gereja Protestan dan dikenal hingga sekarang. Dalam perkembangannya, gereja ini nampak kembali melebur dan membentuk berbagai denominasi baru meskipun tetap mewarisi ajaran Yohanes Kalvin. Peleburan ini erat hubungannya dengan perubahan tata ibadah dan asesoris gereja yang banyak disesuaikan dengan budaya lokal.
Pengaruh reformasi yang dilakukan Kalvin telah meluas ke seluruh belahan dunia. Meskipun ia menghadapi banyak penganiyaan, ia tetap merindukan sebuah negara teokrasi. Buktinya dalam perjalanan pulang ke Basel pada Tahun 1536 dan ia menginap di Jenewa. Pada malam itu juga ia diminta oleh seorang rekannya, William Farel untuk menata kota Jenewa menjadi kota reformasi. Tetapi permintaan Farel ditolak oleh Kalvin karena ia beralasan hanya ingin menulis karya-karya teologi yang dirasanya penting bagi kehidupan gereja selanjutnya. Namun Farel berkata kepadanya, ”Demi nama Allah yang Mahakuasa aku berkata kepadamu: Jika engkau tidak mau menyerahkan dirimu kepada pekerjaan Tuhan, Allah akan mengutuki engkau karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri dari pada kemuliaan Kristus.” Perkataan ini rupannya mengingatkan Kalvin akan panggilan Allah bagi dirinya. Sungguh ia menyadari bahwa Allah telah memanggilnya untuk melakukan suatu pekerjaan besar yang akan mempengaruhi tata gereja dan sistem pemerintahan dunia selanjutnya.
Selang dua bulan kemudian, Dewan kota Jenewa memutuskan untuk menganut paham Reformasi yang dicetuskan oleh Kalvin. Ini merupakan tanda dimulainya penataan sistem pemerintahan kota dan doktrin gereja sesuai dengan cita-cita kedua reformator ini. Pengaturan dimulai dari doktrin dan pelaksanaan perjamuan kudus yang harus dijalankan sebulan sekali. Kemudian dibuat sebuah syariat yang menyatakan bahwa setiap penduduk Jenewa diwajibkan untuk menandatangani sehelai surat pengakuan tentang iman dan keyakinannya. Ketika keputusan ini didengar, langsung saja sejumlah warga kota mengadakan demontrasi dan mengungkap ketidaksetujuan mereka. Dewan Kota dikecam dan dipaksa untuk menolak pengakuan itu dan menyingkirkan kedua tokoh yang bermaksud untuk mereformasi kota Jenewa.
Walaupun perjuangan kedua teolog ini berujung gagal, bagai pucuk dicinta ulam tiba, Kalvin langsung dipanggil oleh Jemaat Strasburg untuk menjadi pendeta disana. Ia diminta untuk menerapkan program reformasi Jenewa yang sempat gagal itu. Mulanya ia membenahi dan menetapkan keteraturan gereja dengan maksud agar tercipta keselarasan antar gereja dan peraturan hukum negara. Sedangkan doktrin teologi Alkitab sebagian besar ia ajarkan melalui nyanyian mazmur yang diciptakannya bersama dengan beberapa ahli musik, Clement Marot, Louis Bourgois, dan Maitre Pierre. Dalam kesibukan yang cukup padat, Teolog Reformasi abad ke-16 ini sempat menjalin asmara dengan seorang janda keturunan bangsawan, Idelette de Bure. Hubungan cinta mereka hanya berlangsung selama sembilan bulan karena Idelette de Bure meninggal dikala Kalvin sedang asik menikmati bulan madu bersamanya. Kepergian isteri tercinta, tidak membuat Kalvin larut dalam kesedihan, ia sangat antusias untuk mewujudkan cita-cita reformasinya. Banyak perkembangan terjadi dan pengaruh teologi Kalvin semakin meluas. Melihat perubahan ini, tahun 1541 ia mendapat panggilan dari Jemaat Jenewa yang dulu pernah mengusirnya. Rupanya jemaat ini menilai tata gereja lain semakin maju karena terbuka terhadap reformasi Kalvin. Setelah tiba di Jemaat Jenewa, Kalvin menyusun sebuah tata gereja baru yang disebut Ordonnances Ecclesiastiques (Undang-Undang Gerejawi). Undang-undang ini mengungkap beberapa jabatan penting dalam gereja, diantaranya: gembala, pengajar, penetua, dan diaken. Dalam struktur organisasi, gembala dan pengajar merupakan kelompok gembala sesuai dengan ungkapan yang tersirat dalam Perjanjian Baru. Sedangkan Penatua bertanggung jawab untuk disiplin gereja.
Selain itu, ia juga mengajarkan pembenaran hanya oleh Iman seperti yang diajarkan oleh Marthin Luther. Ini bukan berarti keselamatan dijalankan tanpa hidup suci seperti yang terjadi di masa Reformasi Kalvin. Teolog Injili ini sangat menekankan kesucian sebagai ucapan syukur karena telah diselamatkan oleh Allah. Itulah sebabnya Kalvin menegaskan bahwa disiplin gereja harus diawasi dengan ketat dan berlaku bagi siapa saja. Dalam pengawasan itu pula, Kalvin meminta andil pemerintah kota untuk membuat syariat demi menggapai negara teokrasi (negara yang menghormati Allah). Dengan pengaturan itu, hubungan politik antar pemerintah dan gereja semakin erat. Gereja sangat mendukung program pemerintah dalam membangun kota Jenewa. Tak lepas pula, ide-ide Sang Reformator itu terus mengalir dan memberi pengaruh bagi negara Jenewa. Untuk meneruskan keteraturan semacam ini, Kalvin mendirikan sebuah Akademi Gimnaium dan Teologi untuk mempersiapkan sebanyak mungkin generasi calvinis yang akan menjadi pemimpin gereja calvinis. Lalu ia mengangkat Theodorus Beza menjadi direktur akedemi tersebut, sekaligus calon yang akan menggantikan posisinya. Dalam perkembangannya, tak sedikit teolog dan lulusan dengan predikat jempolan ditamatkan dari Akademi ini. John Knox, Caspar Olevianus, pengarang Katekismus Heidelberg merupakan teolog besar yang pernah belajar di bawah asuhan Yohanes Kalvin.
Selama hidupnya, banyak karya yang dilakukan oleh Yohanes Kalvin. Pola pikir dan sistem yang dicetuskannya teradopsi dalam berbagai model kepemimpinan di dunia. Namun tak sedikit pukulan keras yang menghujam perasaan Kalvin dan mamaksanya untuk berhenti. Tekanan ini turut memperparah penyakit TBC yang diidapnya. Di masa yang cukup kritis, ia banyak menyampaikan pesan kepada Jemaat Jenewa dan Theodorus, rekan sepelayanan. Hingga tanggal 27 Mei 1564 ia meninggal dunia, namun semua karyanya tetap hidup dalam diri rubuan orang. (Parel)

Sumber
F. D. Wallen, Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.
http://www.allsaintsjakarta.org

HUMAN AUTHORITY

Sebuah Analisis Tentang Kewibawaan Sebagai Pengaruh

Sumber Kewibawaan
Banyak pengertian yang berdesir seputar wibawa. Ada yang menganggapnya sebagai kuasa untuk merekayasa atau mencipta berbagai situasi menurut tujuan yang diinginkan. Namun ada juga yang menyamakan wibawa sebagai sebuah karisma khusus untuk menghipnotis orang lain melakukan sesuatu tanpa diawali dengan perintah. Itulah sebabnya orang cendrung memberi pengertian bahwa wibawa merupakan sebuah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain melalui sikap dan tingkah laku yang mengandung kepemimpinan dan daya tarik. Jadi indikasinya bahwa kewibawaan digolongkan sebagai sebuah seni yang mampu membuat orang lain terkesima dan bersedia melakukan sesuatu baik secara sukarela maupun terpaksa.
Berbagai perspektif ini mengandung implikasi bahwa kewibawaan merupakan faktor personalitas yang sangat penting dalam membangun hubungan serta interaksi sosial. Misalnya, bila seseorang menganggap dirinya memiliki wibawa maka ia akan merasa hak pribadi, privasi diri, martabat, dan kedudukannya dihargai. Ia pasti berprasangka bahwa kehidupan sosialnya berada dalam status quo yang sederajat dengan ukuran bangsawan. Sehingga dengan menjaga wibawa, seseorang akan merasa terhormat dan memiliki nilai diri yang tinggi.
Keadaan seperti ini terkadang membuat seseorang berani membayar mahal demi menjaga keutuhan wibawanya. Ada yang rela menyumbangkan banyak harta hanya untuk menjadikan dirinya sebagai pribadi yang berwibawa dan pantas dihormati. Alasanya karena ia mengganggap bahwa melalui harta tak ada pertentangan apapun yang timbul untuk menggilas perkataan dan sikap yang dilakukannya. Namun wibawa semacam ini akan tetap terpelihara bila eksistensi harta masih memihak, tetapi akan sirna dikala harta mulai terkikis dan kedudukan sosial tak berpengaruh lagi. Selain itu, ada juga yang rela menjaga wibawa dengan membangun kekuatan melalui penguasaan terhadap seluruh elemen penting yang dianggap berpotensi dalam menggalang kehidupan sosial.
Jadi sesungguhnya ada banyak faktor yang digunakan untuk membangun kewibawaan. Mulai dari faktor sosial, ekonomi, intelektual, psikologi, dan faktor lainnya dapat membuat seorang tampil berwibawa. Misalnya karena kepandaian membangun hubungan sosial dapat membuat seorang menjadi sosok yang berwibawa dan ditandai dengan sikap penghormatan terhadap dirinya. Atau karena kemampuan intelektual, nasihat seorang selalu didengar dan membuat dirinya berwibawa di hadapan masyarakat. Masih banyak faktor yang dapat dijadikan contoh untuk menandai kewibawaan seseorang. Namun kesemua faktor tersebut telah dirangkum dalam tiga kategori kemampuan, yaitu Intelligence Qoutient (IQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Emosional Qoutient (EQ).
Ketiga kemampuan ini memproduksi berbagai faktor yang mencipta keahlian khusus dalam diri seseorang yang membuatnya berada pada kedudukan terhormat. Menurut beberapa ahli bahwa ketiga kemampuan ini dikaitkan dengan kewibawaan karena pada dasarnya wibawa merupakan sebuah prilaku yang mempengaruhi orang lain melalui daya tarik terhadap kemampuan/kecerdasan yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain, bukti nyata eksisnya faktor-faktor ini dalam diri seseorang ditandai dengan munculnya kesan dan rasa ketertarikan dari orang lain karena mereka sedang dipengaruhi. Jadi kewibawaan sesungguhnya dimobilisasi oleh IQ, SQ, dan EQ yang terdapat dalam diri seseorang, yang kemudian menghasilkan beberapa faktor kewibawaan (Intelligence Output) seperti yang dicontohkan di atas. Maka dengan melihat faktor kewibawaan yang keluar dari dalam diri seseorang, kita bisa mengenal kecerdasan yang dominan dalam dirinya. Mengapa demikian? Alasannya ketiga kecerdasan ini memiliki perkembangan yang berbeda menurut faktor pembentuknya dan jarang berada pada level yang sama. Bila seseorang mengkonsumsi pendidikan yang banyak berhubungan dengan IQ, maka kecerdasan ini akan lebih dominan dari pada pertumbuhan SQ maupun QE. Namun dalam banyak teori telah dipaparkan bahwa kecerdasan manusia akan maksimal bila pengembangan ketiga kecakapan ini bertumbuh bersama-sama. Namun bisakah hal itu terjadi? Baca terus pembahasan ini, anda akan semakin dilengkapi.

Pengembangan Kecerdasan
Mengapa kemelut dalam dunia kepemimpinan terjadi hanya karena degradasi kewibawaan? Jawaban yang paling banyak dikemukakan menurut penguraian beberapa ahli pendidikan adalah karena ketiga kecakapan dalam diri manusia tidak dibentuk/dikembangkan secara bersama-sama. Pembentukannya hanya terfokus pada suatu kecerdasan saja sehingga tidak membangun kewibawaan diri seseorang secara utuh. Misalnya, fakta membuktikan bahwa sering terdapat beberapa pemimpin yang tampil dengan kemampuan intelektual yang membuatnya sulit dipermainkan. Ia tidak dapat diremehkan karena kecakapan intelektualnya yang luar biasa. Sepertinya ia cukup berwibawa karena kepintaran itu. Namun pada sisi kecakapan rohani mereka gagal menampilkan kehidupan moral yang baik sehingga keunggulan dari segi intelektual justru mengalami degradasi akibat kurang memperhatikan pengembangan SQ dan EQ.
Sesungguhnya inilah yang menyebabkan Ir. H. Soekarno berkata bahwa pada masa lalu sulit untuk menemukan orang yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, namun mereka tekun memelihara kehidupan moral yang baik sehingga jarang ditemukan kasus korupsi yang menghancurkan kewibawaan mereka. Tetapi pada masa kini banyak terdapat orang-orang hebat karena mengkonsumsi ilmu pengetahuan yang lebih dominan membangun IQ, tetapi kewibawaan mereka dirundung dengan masalah hanya karena tidak mampu mengendalikan keinginan diri dan kehidupan moral mereka.
Melihat fakta ini, maka dunia pendidikan mulai membuat sistem pembelajaran dengan pengembangan kurikulum yang mampu membangun ketiga kecakapan ini sehingga tercipta manusia dengan kepribadian yang utuh. Siswa tidak hanya diberi pelajaran yang hanya merangsang pertumbuhan intelektual saja, tetapi juga diberi muatan rohani dan keterampilan praktis, seperti melakukan pekerjaan sosial yang berhubungan langsung dengan masyarakat, dan lain-lain. Semoga melalui sistem ini akan keluar generasi yang memiliki kompetensi baik secara intelektual, rohani, maupun emosional. Sehingga harkat dan martabat bangsa dihargai karena kewibawaan kita ditopang dengan kecerdasan yang utuh. Sekarang mungkinkah kita mencapai kewibawaan yang sempurna?

Kemungkinan Mencapai Kewibawaan
Dalam realita pengembangan tiga kecerdasan ini sering kali terdapat sebuah fluktuasi yang tidak seimbang. Selain disebabkan pembertukan yang tidak seimbang terhadap ketiganya, kemungkinan lain disebabkan karena ketidaksempurnaan yang sifatnya subjektif. Sehingga ini memberi dampak yang tidak maksimal dalam membangun kewibawaan yang utuh. Artinya masih terdapat keyakinan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan yang membuatnya tidak maksimal untuk mencapai kewibawaan yang utuh. Jadi apa yang harus dilakukan?
Di sinilah manusia harus menyadari bahwa dirinya memiliki batas kemampuan karena ia diciptakan sebagai makhluk yang terbatas. Sebagai ciptaan yang melebihi ciptaan lainnya, kita diberi kemampuan untuk mengembangkan diri, tetapi kita harus ingat bahwa tabiat kita telah dibatasi oleh Sang Pencipta. Meskipun terbatas, Allah tidak menciptakan semua manusia dengan kemampuan yang serupa. Ia memberikan beragam kemampuan sehingga nuansa kehidupan manusia dipenuhi dengan warna yang saling melengkapi sesamanya. Ia tidak dapat hidup sendiri tanpa ketergantungan pada sesamanya. Komunitas sosial menjadi sambungan nafas yang akan terputus seketika bila manusia berusaha mengingkari identitasnya sebagai makluk sosial.
Jadi bila kita menyadari bahwa dalam kehidupan ini, tak ada satupun insan yang dapat menampilkan diri dengan kewibawaan yang sempurna maka kenyataan ini sebenarnya mengingatkan kita untuk melengkapi diri dengan kelebihan orang lain. Bila kita tidak sempurna mengembangkan kecerdasan secara maksimal untuk menampilkan kewibawaan yang sempurna guna mempengaruhi orang lain, seharusnya kita tidak kekurangan akal untuk mengajak orang lain bekerja sama mengatasi dan melengkapi kekurangan kita. Inilah tujuan Allah menciptakan manusia. Lihat penguraian Rasul Paulus mengenai konsep Tubuh Kristus. Dalam penuturannya mengenai hal ini, ia memaparkan bahwa dalam Tubuh Kristus terdapat banyak anggota yang memiliki kempetensi yang beragam untuk saling melengkapi dan menyempurnakan anggota lainnya (I Korintus 12:26-31). Penyempurnaan itu bertujuan untuk menciptakan kekuatan yang sinergis guna mempengaruhi dan mengubah dunia ini dengan kewibawaan yang berasal dari Allah. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita berhenti menggali potensi dan mengembangkan kecerdasan yang Ia telah tanamkan dalam diri kita. Bila pengertian kita telah mencapai tahap seperti ini maka kita pasti menyadari bahwa sebagai manusia, kita harus melengkapi diri untuk mengembangkan kemampuan kita dan bekerja sama dengan orang lain untuk melengkapi kekurangan kita sehingga kewibawaan yang kita tampilkan akan memberi pengaruh positif yang akan mengubah kehidupan orang lain. (Parel)

KRISIS EKONOMI NEGARA ADIKUASA

Benarkah Dollar Akan Diganti Dengan Yuan?
Hampir setahun krisis ekonomi melanda dunia akibat berbagai foktor sehingga terjadi penurunan belanja dan menipisnya devisa negara. Namun bagi China yang sekarang dikenal sebagai negara terkuat, masalah itu tidak terlalu berpengaruh. Justru pemimpin negara ini mengusulkan agar mata uang negaranya digunakan sebagai alat tukar internasional. Presiden China, Hu Jintao menganggap mata uang Dollar AS tidak lagi mampu mengatasi krisis ekonomi ini. Menurutnya, Dollar AS harus diganti bila ingin menyehatkan pertumbuhan ekonomi dunia. Pernyataan itu turut didukung oleh Presiden Rusia.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa kondisi perekonomian Amerika Serikat yang semakin parah telah membuat penilaian baru terhadap Dollar AS. Mata uang ini dianggap kurang mampu bersaing secara global oleh beberapa negara akibat krisis yang melanda negara yang mengeluarkan mata uang ini. Mengapa penilaian terhadap Dollar AS justru menurun di era pemerintahan Presiden Barack Husein Obama? Bayangkan saja, negara super power yang selama ini menjadi penguasa ekonomi dunia bisa melakukan pengurangan tenaga kerja hingga mencapai 6,5 % di tahun 2008. Tak hanya itu saja, nilai saham raksasa seperti Moskat Wall Street enjlok dan perusahaan ternama, Lehman Brothers & Washington Matual mengumumkan kebankrutannya dalam beberapa media pers. Bahkan saham Perusahaan American International Group (AIG), sebagai salah perusahaan terbesar di AS mengalami penurunan mencapai 50%. Keadaan ini sempat membuat Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner didesak untuk mengundurkan diri karena dianggap gagal menghalangi peluncuran bonus AIG. Ia juga diduga kuat membela CEO AIG, Edward Liddy yang menjadi sasaran kecaman prihal bonus fantastis itu. Namun pengunduran diri ini sempat dicegah oleh Presiden Obama dalam wawancaranya dengan CBS, walaupun ia sempat marah terhadap pemberian bonus yang justru semakin memperburuk keuangan AS itu. Rupanya resesi ekonomi ini telah menciptakan kompleksitas yang membuat Pemerintah AS sulit mengeluarkan kebijakan yang ditunggu-tunggu oleh dunia. Bisakah seorang Obama mengatasi krisis yang telah menggiring pertumbuhan ekonomi dunia di bawal nol persen menurut perhitungan Direktur Eksekutif IMF, Dominique Strauss-Kahn?
Memang Obama telah mengeluarkan beberapa kebijakan sehubungan dengan kesejahtraan masyarakat AS. Diantaranya, dalam keterangan tertulis Obama seperti yang dikutip oleh Associated Press (AP), beliau berjanji akan menciptakan 3 juta lapangan kerja baru dan memberi keringanan pajak bagi masyarakat AS karena penghasilan mereka tidak seimbang dengan kewajiban yang harus diberikan kepada pemerintah akibat meningkatnya jumlah PHK. Selain itu, pemerintah AS juga akan menggunakan dana Partai Demokrat sebanyak USD 819 Milyard untuk memulihkan perekonomian AS. Namun apakah kebijakan ini dapat menormalkan kembali pertumbuhan ekonomi dunia secara menyeluruh, sedangkan faktor kausalitas ambruknya perekonomian AS yang utama disebabkan oleh kredit macet senilai 2 trilyun dollar AS dalam dunia perbankan negara adikuasa ini. Menurut Paul Krugman, penyelesaian kebangkrutan di dunia perbankan harus lebih diutamakan. Dalam pengamatannya, sejumlah negara maju terlalu banyak mengguyurkan uang ke pasar sehingga terjadi disfungsi sistem keuangan yang sekarang tidak mampu memutarkan uang-uang itu ke sektor perekonomian. Inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi semakin lambat. Syukurlah dalam berita yang diturunkan oleh Kompas 25 Maret 2009, atas nasihat beberapa pengamat ekonom gedung putih, akhirnya Pemerintahan Barack Obama setuju untuk membeli sebagian asset bermasalah (taxic asset) yang bernilai kurang lebih 1 trilliun dollar AS. Pembelian asset ini merupakan langkah untuk menyelamatkan perekonomian AS. Ini berarti bahwa beban krisis yang dihadapi oleh perbankan dipindahkan ke pundak pemerintah hingga krisis meredah dan aliran keuangan perbankan kembali berjalan normal. Setelah itu pemerintah AS akan menjual seluruh aset tersebut secara perlahan-lahan untuk dikembalikan kepada pengelolanya.
Tetapi hingga saat ini tak ada satu pengamat ekonomi dari negara mana pun yang mempu memastikan kapan resesi ini berakhir. Obama sendiri merasa bahwa krisis besar yang sedang melanda dunia akan terus berkepanjangan sekalipun ia telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan politik bagi negara AS. Bahkan puncaknya diperkirakan mencuat tajam pada Mei hingga Juni 2009 karena semua tagihan akan jatuh tempo pada bulan-bulan tersebut. Hal inilah yang mendorong pertemuan negara-negara G-20 yang sebelumnya sempat digelar di London, Inggris dan berlanjut lagi di awal April 2009. Pertemuan ini dilakukan untuk mencapai kesepakatan dalam merespons krisis keuangan global secara komprehensif. Hasil keputusan yang mulai nampak dalam media massa bahwa negara-negara maju yang tergabung dalam kelompok G-20 sepakat untuk menambah sumber keuangan IMF menjadi 500 Dollar AS. Penyuntikan dana ini akan memberi kemampuan kepada IMF dalam mengatasi krisis dan menormalkan kembali pertumbuhan ekonomi dunia.
Rupanya kebijakan Obama belum membuat dirinya yakin untuk mengatasi krisis global ini sehingga harus dibarengi dengan penggabungan kekuatan negara-negara G-20. Padahal diawal pemilihanya, kebijakan seorang Obama dianggap kapela yang akan memberi pencerahan baru bagi depresi besar, baik di negara adikuasa yang sedang dipimpinnya maupun bagi negara lain yang sedang terkena dampak krisis itu. Bila dilihat kompetensi dirinya dan seluruh elemen gedung putih yang menyimpan manusia-manusia hebat, tak mungkin Obama memberikan kebijakan yang hanya menimbulkan impresi bagi kepemimpiannya baik dalam kacamata orang-orang Amerika maupun dunia secara global. Pasti ia sedang bekerja keras memikirkan kebijakan-kebijakan jitu untuk mengendalikan sistem keuangan AS. Buktinya ia menolak dengan tegas penggantian Dollar dengan Yuan menjadi alat tukar internasional. Menurut Obama bahwa ia tidak melihat kekurangan apapun pada mata uang Dollar AS dalam kancah ekonomi dunia. Malahan ia mengajak seluruh negara-negara maju untuk bergabung dan bergotong royong untuk mengatasi krisis ekonomi ini dalam KTT G-20 di London, Inggris April lalu. Dalam pertemuan ini telah dikeluarkan kebijakan-kebijakan kunci, diantaranya berkaitan dengan regulasi finansial, sistem pajak, stimulus fiskal, peningkatan dana IMF, perdagangan global, dan perbankan. Beberapa kebijakan tersebut diyakini mampu melepaskan dunia dari resesi raksasa ini. Mungkinkah dengan keluarnya beberapa keputusan ini akan mengurangi image AS sebagai negara adidaya dalam kacamata dunia? Walaupun seluruh negara di dunia masih terpaut pada kekuatan ekonomi negara super power ini, namun beberapa kesan ini yang bernada pesimis mulai nampak, diantaranya tingkat penukaran mata uang China di Bali semakin meningkat. Tentunya para pengusaha yang bisa menggunakan Dollar AS sebagai alat transaksi mulai merasa kuatir terhadap kerugian yang akan menimpa mereka bila benar mata uang Yuan akan menguasai dunia. Mungkinkah hal ini memberi tanda kemunculan China sebagai negara adikuasa yang akan mengganti peran AS?
Bila melihat profil Presiden Obama, tak mungkin rasanya status Amerika digantikan oleh negara China. Dari segi intelektual, Obama dikenal sebagai orang yang memiliki IQ antara 110-165 sehingga pria kelahiran Honolulu, Hawai 4 Agustus 1961 ini dengan gampang meraih predikat kelulusan Magna cum laude dari Harvard Law School. Bahkan ia pernah menjadi President of Harvard Law Review dan sempat mengajar di University of Chicago selama 10 tahun. Semua prestasi ini membuktikan bahwa kemampuan intelektual Obama tidak dapat diragukan lagi. Sehingga tak heran dalam waktu singkat ia bisa meraih simpati dunia. Banyak orang terkesima mendengarkan pidatonya dan terkagum melihat pesona kasrisma yang dimiliki presiden berkulit hitam ini.
Dari segi sosial, nampaknya Obama mampu membangun hubungan bilateral yang sempat terputus dengan beberapa negara di era pemerintahan Bush sehingga image kepemimpinan AS yang cendrung dinilai bersifat kapitalisme mulai berubah karena sifat bersahabat seorang Obama. Bahkan demo anti Amerika mulai berkurang akibat ditariknya pasukan AS yang sempat menggempur Iraq dan menyebabkan infrastruktur negara ini rusak parah. Sungguh nuansa politik sosok Obama terbilang hebat. Lihat saja sebelum pencalonan dirinya sebagai presiden, Obama pernah memimpin Projeck Vote Illinois pada April 1992 dan berhasil mendaftar 150.000 dari 400.000 orang Afrika-Amerika di negara bagian, sehingga Crain’s Chicago Business menempatkan Obama dalam daftar 40 Under Forty. Masih banyak karir yang diraihnya karena faktor sosial yang selalu menjadi perhatian Obama. Hasilnya sekarang, dalam umur yang masih mudah, ia mampu mencapai kursi penguasa nomor satu di negara adikuasa.
Namun tugas Obama tidak berhenti sampai di situ. Kini Obama sedang membuktikan kemampuan yang dimilikinya. Sekarang ia duduk pada posisi teratas dan memegang kekuasaan tertinggi. Keadaan ini memastikan dirinya memperoleh kesempatan yang tepat untuk memulai perubahan yang ia dengungkan semasa kempanye politiknya. Tetapi masalah awal yang ia temukan pada periode pertama kepemimpinannya merupakan Great Depression yang pernah dialami bangsa Amerika pada tahun 1942. Mengapa bukan masalah lain seperti yang terjadi dalam Pemerintahan Bush yang tidak disukai oleh beberapa negara? Memang masalah ini tak sama para pendahulunya. Obama kini berhadapan dengan situasi yang memaksanya untuk mengeluarkan kebijakan yang cermat. Bila ia terlalu banyak memperhatikan masalah utama yang terjadi di dunia perbankan AS maka akan terlalu lama ia menjawab kebutuhan rakyat AS yang kehilangan pekerjaan mulai Oktober 2008. Karena kebijakan ini, pastinya produktifitas dan andil masyarakat kepada negara akan berkurang, apalagi program pajak pemerintah yang menentukan oprasional negara dikurangi karena pertimbangan politik dan sosial masyarakat, memungkinkan depresi dalam berbagai sektor semakin meningkat.
Bila saja kepemimpinan Barack Obama tidak menjalin hubungan bilateral maka sulit untuk mengatasi krisis ekonomi dan menormalkan kembali perekonomian negara-negara yang masih lemah. Sudah jelas akan berlaku hukum rimba dalam hubungan internasional negara-negara. Tapi syukurlah dengan memperhatikan andil yang dilakukan oleh negara-negara G-20 terhadap IMF memberi titik terang dan kepedulian sosial antar sesama negara. Kirannya kerjasama ini terus berlanjut bukan saja untuk mengatasi krisis ekonomi, tetapi mencapai kemakmuran dan perdamaian yang selalu dijunjung tinggi oleh semua negara. (Parel).

MENGAPA KEKRISTENAN TETAP ADA HINGGA SAAT INI?

Written By Parel T. J. on 28 January 2009 | 22:54

Oleh
Parel T. J.

Argumen & Tindak Kriminal
Kisah tentang Yesus Kristus dalam akumulasi historis dunia rupannya tidak hanya membawa transformasi bagi mereka yang menyakininya, tetapi justru menimbulkan ketegangan dan dekonstruksi yang menyentuh berbagai bidang kehidupan.

Puluhan ribu argumen ilmiah yang lahir melalui penalaran rasio dan ekperimen berusaha menyerang iman Kristen serta membuka mata dunia untuk melihat siapakah sebenarnya Yesus? Bahkan media sebagai produk budaya yang paling berpengaruh turut serta mengeksploitasi berbagai argumen yang berusaha meruntuhkan kebenaran yang diajarkan oleh Yesus, sehingga memberi konstruksi baru yang mengandung polemik yang terus menggempur iman Kristen. Namun dibalik semua itu orang akan memberi alasan bahwa ini merupakan usaha filosofis untuk menggapai kebenaran sejati sehingga siapa pun berhak mempertanyakan keyakinannya. Bukankah itu yang dilakukan para filsuf Yunani guna mencari kebenaran sejati selama ratusan tahun sehingga kehidupan ini bisa mencapai kebijaksaan. Akhirnya segala sesuatu yang ditemukan dalam diri manusia dan ciptaan lainnya selalu dimasukkan dalam wilayah filsafat. Tetapi dapat manusia mencapai kebijaksanaan itu dengan sarana yang ada padanya? Dapatkan filsafat menjangkau seluruh eksistensi manusia dan segala sesuatu di luar dirinya? Pikiran yang menjadi sarana utama dari usaha filosofis ini pasti memiliki batas karena ia dicipta dalam keterbatasan. Bila demikian mengapa pikiran yang terbatas ini justru melahirkan argumen yang menentang Penciptanya. Bahkan ketika upaya itu tidak tercapai, orang dengan gigih melakukan kekerasan dan intimidasi untuk mencabut akar kekristenan yang telah bercokol sekian lama. Sama seperti yang dilakukan terhadap John Wycliffe. Sejumlah pemuka gereja berusaha menggali kubur dan membakar tulang-tulangnya untuk menghapus nama serta ajaran sang Reformator dari sejarah gereja karena ia menentang doktrin penguasa gereja masa itu yang terbilang sangat kontroversi dengan kebenaran Alkitab. Tetapi pengaruh kebenaran yang sangat gigih dipertahankannya, justru memberi pengcerahan baru di tengah kemelut penyesatan yang sedang melanda gereja di abad Reformasi sesudah zaman Martin Luther ini. Meskipun serangan bertubi-tubi mengguyur dunia kekristenan dengan benturan yang sangat kuat sesudah masa Wicliffe, kekristenan tetap berhasil membuktikan diri sebagai organisasi yang kuat. Akankah kekristenan bertahan dalam tekanan seperti ini?

Pembuktian Sejarah

Sejak permulaan abad pertama kehendak untuk membendung kekristenan telah dilakukan oleh kekaisaran Romawi. Bahkan ribuan martir Kristen dibunuh oleh kaisar-kaisar Romawi. Tetapi tidak satupun penganiayaan besar itu mampu menumpas orang Kristen dan kekristenan di dunia ini. Hal inilah yang mengakibatkan retrospeksi diri bagi penguasa kerajaan Romawi sehingga Kaisar Konstantin telah menjadi Kristen pada abad ke-4. Sejarah juga telah membuktikan bahwa sejak Kristus berada di dalam dunia ini sampai sekarang tidak kurang dari berjuta-juta orang rela mati bagi Dia karena kasih kepada-Nya. Banyak orang yang semula membenci Dia berbalik menjadi orang yang sangat mencintai Dia. Sehingga dinasti-dinasti dan pemerintah-pemerintah Anti Kristus menjadi kewalahan dalam usaha menumpas kekristenan, bahkan sebagai akibatnya justru kekuasaan mereka sendiri yang tertumpas.

Sejarah juga mencatat bahwa sejak tahun 622 M gereja mulai dilenyapkan di Afrika Utara, Palestina, dan Asia Kecil (Turki) sehingga pusat gereja pindah ke Eropa Barat. Dalam perjalanannya di Eropa Barat, gerakan misi kurang dipedulikan karena gereja Khatolik-Roma membutuhkan suatu pembaharuan radikal terhadap doktrin yang pada saat itu mengalami konflik teologis dengan beberapa golongan sehingga fokus pelayanan misi kurang diperhatikan. Setelah memasuki abad reformasi pada tahun 1517, Marthin Luther dan para tokoh reformator lainnya mulai mengobarkan semangat misi. Namun tidak ada satu pun gerakan misi yang dilakukan untuk menjangkau Afrika dan Asia. Tetapi Tuhan menggunakan Kaum Pietisme untuk mengabarkan Injil sekaligus menjadi pelopor dan perintis modernisme pada akhir abad ke XVIII. Gerakan Pietisme ini cukup majemuk dan berkesinambungan baik di dalam maupun di luar gereja-gereja Eropa serta belahan dunia lainnya. Gerakan ini sesungguhnya merupakan gerakan penyegaran rohani di dalam gereja-gereja Lutheran yang berfokus pada pemberitaan Injil. Semangat pekabaran Injil yang dilakukan oleh golongan ini rupannya memotivasi William Carey untuk menciptakan sebuah Gerakan Misi Modern yang berpusat di Inggris. Sehingga dalam waktu relatif singkat puluhan badan misi didirikan di Eropa Barat dan Amerika Utara. Melalui badan misi ini, Injil mulai mengelilingi dunia hingga kembali ke wilayah Afrika dan Asia sejak abad XX. Pada masa itu lawatan Tuhan mulai dinyatakan kepada Afrika dan Asia yang nampak dalam kebangunan rohani di pelbagai negara bagian Asia dan Afrika, seperti tranformasi yang terjadi di Uganda. Bahkan Badan Misi Dunia yang mendirikan Gerakan Misi Modern memberi data bahwa misionaris yang berasal dari negara-negara dunia ketiga ini yang dulunya menolak kekristenan justru tercatat sebagai daerah yang paling banyak memproduksi jiwa baru bagi Kristus. Dari tahun 1970 sampai 1982 tercatat 15.249 misionaris yang berasal dari Afrika dan Asia. Perkembangan kekristenan di negara Afrika dan Asia yang semula menolak Injil Yesus Kristus menunjukkan suatu kekuatan besar yang tidak dapat dihentikan oleh apapun.

Meskipun telah diketahui demikian, upaya untuk menghentikannya masih terus dilakukan, misalnya dalam beberapa model edukasi filosofis, muncul berbagai aliran yang berupaya membandingkan kebenaran dengan presuposisi Kristen yang secara kritis diungkapkan untuk mempengaruhi bahkan mengalihkan keyakinan. Christian Science, Spiritualisme, Saksi Yehova, Theosofi, Mormonisme, Unity, dan Theologia Modern merupakan segelintir aliran yang berusaha menciptakan kebenaran baru di luar koridor dasar iman Kristen. Dengan upaya ini apakah kekristenan berhenti merambat dalam himpitan kriminal dan argumen yang menghalanginya?

Kekristenan Tetap Bertahan
Dalam perkembangan kekristenan hingga abad ini tidak sedikit rintangan yang menciptakan masa tribulasi bagi orang Kristen. Namun aliran yang dianggap sebagai ancaman besar sejak abad pertama ini masih tetap berkibar dalam kancah politik agama dan mampu memberi desiran apologetika mengenai keyakinan yang dipercayainya.

Secara analisa ratio, orang bisa saja berpikir bahwa kuatnya kekristenan mungkin disebabkan oleh ”kekuatan batin” yang mempengaruhi kehidupan seseorang dan dilegetimasi oleh pengalaman supranatural sehingga semakin memperkokoh akar keyakinan akan pribadi yang diyakini sebagai penolong dalam hidupnya. Siapa saja berhak berpikir dan mengeluarkan pendapat demikian, namun motif yang mendistorsi dengan tujuan pembodohan dan penyesatan perlu dipikirkan kembali. Kita tahu bahwa ilmu filsafat memiliki dalil yang selalu berakhir pada penemuan kebenaran untuk mencapai kebijaksanaan. Oleh karena itu, bila sebuah ilmu digunakan untuk membodohi atau merugikan orang lain maka kebijaksaan tidak akan pernah ditemukan karena rumusan yang benar telah diputar ke arah penyesatan menuruti motif yang jahat itu. Tetapi kebenaran dan kebijaksanaan yang sesungguhnya akan tetap bertahan, tidak ada seorangpun yang dapat menghapusnya karena ia dilindungi oleh kekuatan yang tak terkalahkan. Ia tidak akan pernah hilang karena ia memiliki dalil yang baku menurut hukum dan ketetapan Sang Khalik. Itulah sebabnya, bila orang mencoba melawan hukum itu ia pasti berhadapan dengan kekuatan yang menyebabkan asal mula segala sesuatu. Sehingga tidak ada cara lain untuk mempertahankan hidup ini, selain hidup dalam hukum itu. Namun apakah semua orang bisa menemukan ketetapan itu?

Bertahun-tahun para filsuf menganalisa tentang asal mula segala sesuatu dan merumusnya dalam sebuah argumen, mereka tiba pada sebuah kesimpulan bahwa di balik alam semesta ini ada sebuah hikmat ilahi yang merancang sistem kosmis dan Ia bukan disebabkan tetapi menyebabkan segala sesuatu menjadi ada. Pribadi itulah yang memelihara hukum yang telah diciptan-Nya dalam kesempurnaan hikmat-Nya. Apa yang telah dinyatakan-Nya dalam dunia ini akan dipelihara dengan tangan-Nya yang kuat. Sehingga segala tindak kriminal dan argumen yang bukan berpihak pada-Nya tidak akan mampu berhadapan dengan-Nya. Salah seorang filsuf, Remmer Jannsen mengakui bahwa dalam sejarah Ia telah memperlihatkan jari-Nya; bahkan hingga kini perbuatan tanggan-Nya semakin nyata dalam hidup manusia. Apapun kendali yang diperdaya oleh manusia di luar kemauan-Nya tidak akan pernah berhasil karena Ia Sang Pembela yang memelihara kebenaran dimana segala makhluk bumi berpaut kepadanya. Bayangkan saja, hati manusia yang melawan kehendak-Nya dapat diubah menjadi hati yang setia bahkan rela berkorban atas nama-Nya (Lihat kisah pertobatan Paulus yang dulu membenci kekristenan dalam Kisah Para Rasul 9).

Bila demikian dapatkan manusia menciptakan dalil sendiri dan memaksa sesamanya untuk keluar dari ketetapan Ilahi itu? Tidak seorangpun yang mampu bertahan melawan jari-jari itu. Sekalipun manusia berusah mencela kebenaran-Nya, Dia Yesus akan tetap mulia sampai selama-lamanya.

Sumber:
Dr. Diertrich Kuhl, Sejarah Gereja Mula-Mula. Yayasan PPII: Batu, Jawa Timur, 1998.
Prakata Pdt. Dr. Stephen Tong, Kristen Sejati. LRII: Surabaya, 2001.
C. Marvin Pate & Sheryl L. Pate, Disalibkan Oleh Media. Yogyakarta: Andi Offset, 2007

PERAYAAN PASKAH: SEBUAH TRADISI ATAU PERINGATAN

Written By Parel T. J. on 13 January 2009 | 19:04

Oleh
Parel T. J.

Perayaan paskah mulai terlihat dalam berbagai liputan media. Bahkan sejumlah majalah dan tabloid rohani banyak membicarakan berbagai tema yang memiliki implikasi dengan hari yang satu ini. Tak ketinggalan pernak-pernik paskah yang biasa digunakan, laris terjual dan tampak menghiasi sejumlah acara gereja yang sangat suka dengan simbol-simbol paskah. Syukurlah bila simbol-simbol itu selalu menyadarkan kita akan makna paskah dan bukan sebagai sebuah tradisi belaka. Tujuan paskah yang sesungguhnya pertama kali dipaparkan dalam Perjanjian Lama namun dinyatakan serta disempurnakan kembali dalam Perjanjian Baru melalui penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Banyak Teolog yang mengatakan bahwa darah penebusan yang digunakan dalam Perjanjian Lama hanya sebagai sebuah grafirat yang memperdamaikan manusia dengan Allah tetapi darah itu tidak dapat membawa manusia mencapai atau bersatu hadirat Allah. Buktinya Allah masih memberikan Kristus, sebagai Anak Domba Allah untuk menebus dengan sempurna dan pekerjaan penebusan itu hanya dilakukan sekali untuk selama-lamanya, sedangkan dalam Perjanjian Lama, penebusan dengan darah binatang yang ditentukan oleh Tuhan sendiri biasa dilakukan berulang kali. Jadi tafsiran seperti ini kerap terdengar dan diungkap dengan maksud untuk membandingkan kedua jenis penebusan ini. Tetapi pembahasan kali ini tidak mengungkap sejarah paskah yang pernah terjadi di alam Perjanjian Lama. Namun mungkin akan dihubungkan bila memiliki korelasi sehingga memperjelas tafsiran kita terhadap topik yang sedang dibahas saat ini.
Kebenaran yang terkandung dalam Teologi Paskah menurut Perjanjian Baru selalu berkisar mengenai penebusan dosa dan pembebasan seorang terpidana dari hukuman. Salah satunya disinggung dalam Injil Yohanes 1:29, ”Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: ’Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.’” Keseluruhan Injil Yohanes memang berbicara dan menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia untuk melakukan misi penebusan. Ia datang untuk melepaskan manusia dari hukuman dengan cara memberikan diri-Nya sebagai korban suci untuk mengganti manusia yang seharusnya dihukum. Dalam ayat di atas telah disebutkan bahwa Yesus Kristus datang untuk menghapus dosa. Kata menghapus berasal dari kata ario yang didahului dengan artikel ho. Secara literal kata ini mengandung dua arti, yaitu: Menanggung dan Menyingkirkan. Jadi Yesus datang untuk menanggung hukuman karena dosa manusia, sehingga dosa itu dihapus oleh Allah dan manusiapun tersingkir/terlepas/terbebas dari hukuman. Penebusan yang dilakukan Yesus merupakan pekerjaan satu kali yang tidak akan pernah diulang lagi karena pekerjaan itu sempurna (Perfect). Pekerjaan itu hanya dilakukan satu kali untuk selama-lamanya. Inilah perbedaan penebusan dalam Perjanjian Baru dengan penebusan dalam Perjanjian Lama. Sehingga penebusan dengan cara mengorbankan domba atau binatang lain seperti di Perjanjian Lama tidak dilakukan lagi semenjak Yesus Kristus mengorbankan dirinya, menjadi tebusan yang sempurna. Inilah sebabnya mengapa Allah harus mengambil rupa manusia untuk menebus manusia dari dosanya? Mengapa Allah tidak menghapus dosa manusia saja karena pada diri-Nya terdapat otoritas tertinggi? Mengapa Ia harus menjadi manusia? Alasannya bahwa Ia telah menetapkan bahwa penebusan harus ditanggung oleh seorang yang terbukti melakukan kesalahan. Tetapi karena manusia sendiri berdosa maka penebusan yang dilakukannya pun tidak sempurna. Dengan kata lain, manusia yang berdosa tidak lagi dapat menebus kesalahannya karena ia sendiri keturunan orang berdosa. Karena alasan ini, maka dalam Perjanjian Lama senantiasa tersirat bahwa korban yang dipakai untuk menebus sebuah pelanggaran selalu menggunakan binatang yang ditetapkan oleh Allah dan binatang tersebut haruslah suci, tak bercacat seperti ketetapan yang disebutkan dalam beberapa kasus (Bilangan 28:3; Im 4:3,32). Jadi karena tidak ada seorang yang layak melakukan tugas penebusan itu, maka Allah menggunakan diri-Nya sendiri karena Ia suci dan layak melakukan penebusan atas diri manusia. Itulah sebabnya Anak Domba Allah, yaitu Yesus sendiri tidak berasal dari keturunan Adam, Ia suci adanya. Inilah kebenaran yang mempertegas mengapa Yesus hurus menjadi manusia melalui perkerjaan Roh Kudus (Mat 1:18)? Agar Ia dapat melakukan penebusan dengan sempurna karena di dalam diri-Nya tidak terdapat benih dosa. Istilah yang biasa digunakan oleh beberapa pelayan Tuhan saat berkhotbah ialah bahwa Ia hanya ”meminjam” kandungan manusia untuk melahirkan diri-Nya. Bagaimana hal itu terjadi? Inilah pekerjaan supranatural yang pernah dilakukan Allah. Baginya tidak ada yang mustahil. Lihatlah, Ia dapat menjadikan Hawa tanpa seorang perempuan di sisi Adam. Artinya Ia dapat bertindak menurut kehendak-Nya tanpa proses pembuahan seperti diterangkan dalam ilmu medis menurut logika manusia. Tindakan-Nya sungguh melebihi rasio dan cara berpikir manusia karena Dia adalah Allah Yang Maha Besar. Menambah penjelasan ini, Louis Berkhof menerangkan pula bahwa bila Allah Yesus Kristus datang dengan eksistensi-Nya sebagai Roh saja maka Ia tidak akan mati karena eksitensi (tubuh) korban penghapus dosa tidak terdapat dalam diri-Nya. Sementara upah dosa adalah maut maka Allah harus menanggung resiko ini bukan dengan eksistensi-Nya sebagai Roh, tetapi tubuh. Jadi bila Ia menyelamatkan manusia tanpa eksistensi manusia maka tidak akan ada kematian dan dosa manusia pun tidak akan terhapus. Sebaliknya, bila Yesus Kristus datang hanya dengan eksistensi atau tubuh manusia, maka penyelamatan terhadap jiwa tidak akan terlaksana karena tindakan penyelamatan manusia dari hukuman maut hanya bisa dilakukan oleh Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri. Itulah sebabnya Yesus Kristus disebut Allah-manusia untuk menjalankan kedua ketetapan Allah, yaitu menanggung hukuman karena dosa manusia dan menyelamatkan manusia untuk memperoleh hidup yang kekal.
Jadi inilah makna paskah yang sesungguhnya, bahwa ternyata kasih Allah terhadap manusia tidak dapat diukur dengan pembanding apapun. Ia bertindak menurut kehendak dan kedaulatan-Nya untuk menyelamatkan manusia. Tanpa tindakan Allah, manusia tidak akan sampai kepada-Nya; manusia akan tetap menyandang status terpidana mati sampai selama-lamanya. Tetapi syukurlah, Allah masih mengingat ciptaan yang dijadikan-Nya pada hari keenam ini dan mengambil rupa manusia untuk menyelamatkannya.
Boleh saja kita menghiasi dan merayakan paskah dengan pesta dan rasa ucapan syukur karena kita telah diselamatkan oleh Allah. Tetapi seharusnya kita tidak lupa membagikan kasih itu kepada orang yang belum menerimanya. Banyak orang yang mempersoalkan apa yang harus dilakukan di hari paskah. Ada yang melarang orang berpesta atau melakukan rekreasi karena alasan hari perkabungan mengingat pengorbanan Yesus di kayu salib dan hanya boleh melakukan hal itu bila hari kebangkinan telah tiba. Namun ada juga kelompok yang melakukan pesta dan ibadah syukur di tempat rekreasi karena mengingat akan kelepasan manusia dari hukuman atas dosanya. Kedua ciri ini selalu menjadi polemik dalam gereja, bahkan tak jarang menimbulkan gap di antara anggota jemaat. Inikah arti paskah yang sesungguhnya? Haruskah paskah dirayakan dengan pesta atau dihiasi dengan perkabungan? Meyakini sesuatu di dalam hati dan menganggapnya sebagai sebuah agama memang harus diaplikasikan/dinyatakan dalam prilaku. Tetapi masalahnya banyak perilaku yang menyimpang dari perintah esensial sebuah agama. Perilaku itu tidak sepatutnya dilakukan karena ia tidak diperintahkan tetapi justru memicu terjadinya konflik. Namun karena dianggap tidak bertentangan dan memberi rasa nyaman dalam hati nurani maka lama-kelamaan menjadi sebuah tradisi yang membudaya dan sangat sulit dihilangkan. Coba perhatikan, sewaktu petri-putri Yerusalem menangisi Yesus dikala ia tersiksa di sepanjang jalan menuju tempat penyaliban orang romawi, apa yang Yesus katakan: ”Hai putri-putri Yerusalem, jangan kamu menangisi Aku, melainkan tangisi dirimu sendiri dan anak-anakmu.” (Luk 23:28). Bagi seluruh orang yang mengidolakan Yesus pada waktu itu, penyiksaan terhadap Yesus merupakan sebuah hari perkabungan. Sang Pemimpin yang mereka andalkan untuk membebaskan mereka dari tekanan dan jajahan bangsa Romawi, akhirnya dihakimi dan dijatuhi hukuman mati, sungguh menyedihkan. Tetapi malahan Yesus menyuru mereka berhenti meratapi Dia, sebaliknya Ia menyuru para putri Yerusalem ini menangisi diri sendiri dan anak-anak mereka. Adakah indikasi hari perkabungan dalam perkataan Yesus mengenai hal ini? Merayakan pesta pun tidak diperintahkan Yesus. Namun salahkah bila kita melakukannya dengan hati yang tertuju kepada Allah? Bila tidak salah mengapa harus ada pertentangan dalam menyingkapi hari raya paskah?
Jadi sesungguhnya pesan yang hendak Allah sampaikan lewat paskah ialah setiap umat Tuhan harus selalu memperingati kematian Yesus dan mendorong mereka untuk menyuarakan kebenaran kepada orang yang belum mengenalnya. Melalui paskah Allah ingin agar kita semakin giat melayani Dia dalam pemberitaan Injil dengan memproklamasikan bahwa kematian Kristus sebagai tebusan atas hidup manusia agar semua manusia yang percaya kepada-Nya beroleh kehidupan yang kekal. Inilah berita yang harus menjadi tema utama dalam merayakan paskah. Selamat hari paskah, Tuhan Yesus memberkati.

BOLEHKAH GEMBALA BERLIBUR?

(Marginal Utility Dalam Pelayanan)
Oleh
Parel T. J.

Kegiatan refreshing bagi para gembala yang melayani di jemaat kini terlihat sering dilakukan. Waktu khusus yang diberikan bagi sang gembala untuk bersantai sejenak selalu saja terselip dalam jadual pelayanan sepekan. Tentu saja orang mulai menyadari dampak psikologi yang disebabkan oleh kegiatan yang satu ini. Bahkan dari fakta yang terlihat di lapangan, jemaat telah memahami bahwa seorang gembala membutuhkan waktu libur/cuti untuk memikirkan urusan pribadi dan mendesain perencanaan bagi masa depan hidupnya, yang tidak sempat dilakukannya selama jam kerja.
Bayangkan saja, kesibukan sang gembala dalam menangani dan membuat rencana pelayanan, sungguh menguras energi dan kemampuan berpikir yang memungkinkan seorang gembala mengalami stress berat. Walaupun ia bekerja dalam tim, tentu saja seorang memiliki marginal utility dan pasti mengalami kejenuhan. Apalagi bila ia termasuk seorang gembala yang melayani sendiri di sebuah jemaat yang cukup menuntutnya untuk bekerja maksimal guna memberi solusi atas masalah mereka, pasti sangat melelahkan dan mengarahkan dia kepada gejala psikologis dalam posisi yang lebih tinggi. Tentulah keadaan semacam ini mengurangi produktifitasnya.
Hal ini merupakan fakta, dimana seorang gembala dipaksa dalam kapasitas jiwa dan fisik yang sedang mengalami turbulen untuk berbuat maksimal demi pertumbuhan jemaatnya, tanpa memikirkan perkembangan keluarga dan kesehatan dirinya baik secara psikologis ataupun medis. Sehingga tak heran bila fakta mengungkap bahwa kebanyakan gembala dilanda oleh kemiskinan karena kurang memiliki persiapan dalam menghadapi kemelut di hari tua. Sudah pasti ia akan disalahkan dan dianggap tidak pandai dalam mengatur masa depannya. Inikah sebuah penderitaan?
Demi mengantisipasi hal semacam ini, gereja-gereja mulai memikirkan pensiun bagi para gembala. Siapa yang harus bertanggung jawab untuk memikirkan hal ini? Mengapa sang gembala tidak memiliki waktu untuk berpikir demi masa depannya? Selain sibuk karena waktunya dipadati dengan berbagai jadual, banyak juga persepsi yang berdesir di kalangan hamba-hamba Tuhan bahwa Allah yang memanggil kita, pasti Dia juga yang akan bertanggung jawab atas kebutuhan dan masa depan kita. Solusi semacam ini mamang sifatnya sangat teologis, tetapi masih mengalami kelumpuhan dalam praktika dan penerapannya. Allah memang memberkati kita, tetapi bukan hanya dengan mujizat-Nya semata, Ia juga menggunakan kehendak dan usaha kita dalam mencari berkat yang Ia tempatkan di alam semesta ini, seperti kata William Dyrness dalam bukunya, ”Tema-Tema Teologi Dalam Perjanjian Lama”. Namun kapan seorang gembala mendapat kesempatan untuk memikirkan dan berusaha untuk semua itu bila tak ada waktu khusus baginya? Kondisi seperti inilah yang menyebabkan seorang sahabat penulis, yang juga melayani di salah satu gereja besar di sebuah kota mengungkapkan bahwa para gembala sebaiknya tidak diberi pelayanan pada hari senin karena mereka juga membutuhkan waktu untuk istirahat dan refreshing bersama keluarga. Kesempatan seperti inilah yang memungkinkan gembala untuk memikirkan investasi bagi masa depannya.
Namun pertambahan kuantitas pelayanan yang terus meningkat seiring dengan munculnya masalah yang tidak pernah memberi tahu kapan ia akan menimpa manusia, rupanya memicu sebagaian orang berpikir bahwa pelayanan harus dijalankan tanpa mengenal lelah. Bahkan tak tanggung-tanggung, alasan itu kerap dibungkus dengan berkata bahwa seorang pelayan harus siap sedia memberitakan perkataan kebenaran, baik atau tidak baik waktunya. Entah keluarga sedang dalam kondisi kritis, tak perduli, yang penting pelayanan harus diutamakan. Sesungguhnya ini memberi indikasi dan tafsiran bahwa kebenaran Firman Allah saling bertentangan dengan bagian lainnya, termasuk dengan sistem dan aturan alam semesta. Memang ada orang yang berhasil memberi argumen kristis untuk mempertentangkan semua sistem itu yang akhirnya mengabaikan kebenaran lain yang pernah diungkapkan Allah. Tetapi ada juga hamba Tuhan yang telah mengubah midset-nya dan menganggap keluarga nomor satu dan pelayanan nomor dua. Asumsinya sangat sederhana bahwa pelayanan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan orang lain seperti analogi yang disampaikan Yesus ketika ia naik ke Surga bahwa pemberitaan Injil harus terjadi dulu di Yerusalem. Bukan hanya itu saja, ada hamba Tuhan yang berkata bahwa menyediakan waktu dan refreshing bersama keluarga merupakan pelayanan seumur hidup yang harus diutamakan.
Memang secara rohani banyak yang berpendapat bahwa kekuatan dan kesegaran jiwa semata-mata berasal dari Tuhan. Tanpa refreshing pun seorang dapat menerima kesegaran jiwa dari Allah. Pendapat semacam ini boleh saja, tetapi ingatlah bahwa paradigma seperti ini membuat kita lupa bahwa manusia adalah ciptaan yang terbatas dan menempatkan manusia dalam posisi yang tidak riil sehingga ini akan mencipta sebuah ideologi atau falsafah yang salah tentang ”harga diri” seperti penegasan beberapa pakar psikologi. Dengan demikian, Tuhan telah menggunakan cara dan metode ilmiah dalam memelihara manusia sebagai usaha untuk menanggulangi keterbatasannya. Tuhan telah memberi pengetahuan khusus bagi manusia melalui pendidikan baik formal maupun informal agar ia bisa mengolah diri sebaik mungkin dan menjadi penolong yang melengkapi sesamanya untuk mencapai maksud Allah. Sehingga secara medis manusia diajar agar berusaha memelihara kesehatan fisiknya melalui istirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan bergizi, dan berbagai tindakan medikal lainnya. Sedangkan secara psikologi, manusia yang telah diberi kehendak dan akal, disarankan untuk menolong dirinya guna mewujudkan kesegaran jiwa yang permanen, yang tentunya terjadi atas pertolongan Roh Kudus. Beberapa psikolog maupun dokter sekular pun sering menulis dan memberi terapi kepada setiap orang untuk membangun komunikasi intrapersonal dengan dirinya baik melalui doa, refreshing, istirahat, maupun terapi lainnya untuk mencipta kesegaran jiwa dan menstabilkan gelombang otaknya (sebuah metode untuk menanggulangi stress). Ini bukan sebuah teori The Cult of Self-Worship yang memungkinkan lahirnya manusia super seperti yang dibantah oleh Paul C. Vitz, tetapi ini sebuah proses alami dimana manusia berinteraksi dalam upaya menjaga diri dengan berusaha menggunakan kehendaknya, yang sepenuhnya dibimbing dan ditolong oleh Tuhan untuk memberikan penyegaran jiwa bagi dirinya. Sehingga kondisi jiwa yang sehat akan memberi produktifitas sesuai dengan kompetensi diri yang maksimal. Tetapi bila perasaan dan jiwa mengalami gangguan maka kaulitas seta kekuatan berpikir pun tidak akan maksimal.
Di lapangan pelayanan, banyak hamba-hamba Tuhan mengalami gejala psikologis dalam berbagai level, mulai tingkat stress, frustrasi, defpresi, dan gejala lainnya. Kondisi ini memberi peluang munculnya berbagai masalah baru baik dalam pelayanan maupun dalam diri sang gembala. Belum lagi serangan kuasa gelap yang terjadi setiap saat seperti yang disebutkan dalam Surat I Petrus 5:8. Tetapi terkadang dalam menanggapi gejala-gejala seperti ini, sebagian orang langsung memberi interpretasi yang menyerang dengan prasangka dan menganggap serta menuduh bahwa pemicu utama munculnya gejala psikologi dalam diri seorang gembala adalah karena relasi rohani dengan Tuhan sedang mengalami distorsi yang hebat. Secara empiris, perkataan ini sedikit benar karena pada kenyataannya ada kasus yang demikian. Tetapi biasanya tuduhan semacam ini kurang didasari atas penelitian dan analisa yang akurat terhadap prilaku dan nurani sang gembala. Sebaliknya dirumuskan dengan eksperimen yang terbatas. Akhirnya tuduhan semacam ini membuat kondisi bertambah rumit dan menggiring sang gembala kepada gejala psikologi yang lebih tinggi. Bahkan yang lebih menyedihkan, surat pemutasian atau pemberhentian diterbitkan, tanpa memikirkan nasib dan masa depan sang gembala.
Jadi agar pelayanan tetap berjalan dengan baik, kita perlu memberi kesempatan kepada gembala untuk berlibur atau mengambil waktu refreshing agar ia memiliki kesempatan yang fokus baik bagi dirinya sendiri maupun keluarga. Kesempatan itu merupakan waktu baginya untuk berusaha memikirkan dan mempersiapkan sebuah investasi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Sehingga dalam hal ini perlu ada tenaga, baik dari badan pengurus jemaat, wakil gembala, atau rekan sekerja lainnya yang telah terlatih dan dilengkapi untuk menangani tugas sang gembala.

AWAS BUDAYA PORNOGRAFI

Oleh
Parel T. J.

Kabar tak sedap tentang Rancangan Undang-Undang pornografi tiba-tiba terkuak kembali di awal November tahun lalu. Pasalnya, tuntutan yang memaksa DPR membuat dan mengesahkan RUU Pornagrafi dan Pornoaksi terus menuai kontroversi seperti yang diungkap oleh Eva Kusuma Sundari, Anggota Pansus UU Pornografi dari Fraksi PDI-P dalam Tabloid Reformata Oktober 2008. Eva menilai bahwa RUU itu mengandung banyak pasal dan ayat yang masih kontroversi dengan banyak hal. Rupanya tak semua kalangan bisa menerima rancangan aturan yang dicetuskan menurut voting suara terbanyak. Seolah-olah budaya majemuk yang terkandung dalam NKRI, sepertinya akan digilas sebagiannya oleh RUU yang baru ini.
Tak lama setelah diluncurkan RUU itu, aksi protes yang dilancarkan oleh Pemerintah Daerah Bali kala itu terus berdesir kuat. Pemerintah setempat mengirim surat kepada Dewan yang setuju dengan peresmian RUU ini bahwa undang-undang itu tidak sesuai dengan konteks budaya lokal yang sementara ini banyak dimasuki oleh para wisatawan asing yang datang dari berbagai negara.
Tak hanya itu saja, Anggota DPRD Sulawesi Utara yang membawa nama masyarakat juga turut angkat bicara, menolak pengesahaan RUU-P ini. Mereka menilai bahwa RUU Pornografi tidak merangkul aspirasi daerah. ”Sejauh ini RUU Pornografi tidak memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia yang plural sehingga harus ditolak untuk diundangkan," kata Wakil Ketua DPRD Arthur Kotambunan. Ia juga memberi komentar bahwa Provinsi Sulut merupakan daerah yang sangat menghargai kebebasan dengan menjunjung tinggi norma agama dan budaya setempat sehingga tidak perlu diatur lagi dalam UU. RUU Pornografi hanya merupakan alat bagi kepentingan kelompok tertentu untuk memecah belah persatuan yang sudah terbentuk sejak kemerdekaan Indonesia melalui Pancasila dan UUD 1945. Indonesia masih memiliki banyak produk hukum lain yang mengatur tentang pornografi dan pornoaksi, seperti KUHP maupun UU lainnya," tandas Ketua DPW Partai Damai Sejahtera (PDS) Sulut itu.
Sejalan dengan itu pula, dikabarkan bahwa penolakan terhadap RUU Pornografi sudah merupakan keputusan kelembagaan DPRD, karena 44 dari 45 wakil rakyat Sulut sudah menandatangani surat penolakan tersebut untuk disampaikan kepada Panitia Kerja (Panja) DPR RI. Penolakan ini terus berlanjut dengan berbagai aksi demonstrasi yang digelar dengan beberapa alasan yang serupa.
Sementara itu, di berbagai kota provinsi yang sedang berkembang, kebiasaan menerima dan meniru model-model baru yang cenderung dianggap sebagai bagian dari pandangan ideologi terbuka semakin menjadi-jadi. Malahan cara dan gaya hidup yang selama ini menjadi identitas kita telah dianggap kuno dan kurang relevan dengan tren yang bukan milik bangsa kita. Akhirnya pengaruh globalisasi yang terus berubah-ubah seperti ini semakin mengoyak dan mengubah identitas bangsa. Sehingga tak dapat dibendung lagi, degradasi akhlak dan moral semakin meningkat tajam, merusak generasi yang menjadi andalan bangsa.
Keadaan semacam inilah yang sungguh memprihatinkan bagi sebagian pihak dan memberi peluang besar untuk pemerintah memikirkan kembali pengesahan rancangan undang-undang pornografi dan pornoaksi ini.
Namun tak dapat disangkal bahwa benturan berbagai perspektif terus menambah kompleksitas dalam memikirkan dan membangun kembali apa yang telah dihancurkan.
Inilah kerumitan dalam menjaga sebuah identitas diri. Orang yang memelihara identitas dirinya selalu dianggap ketinggalan zaman, tetapi orang yang berani mengubahnya selalu berada dalam bahaya. Meniru dan mengenakan budaya baru memang dianggap baik bila menghasilkan potret diri yang semakin unggul. Namun menggunakan label budaya baru yang justru menghapus ciri Indonesia sebagai masyarakat yang hidup di bawah naungan Pancasila merupakan warna yang harus ditolak dengan tegas.
Maka dari itu, seharusnya kita membenahi diri dan menjadi pribadi yang kritis dan selektif dalam memantau segala penetrasi budaya baru yang sedang membawa perubahan bagi kita. Tanamkan disiplin dan cita rasa yang tinggi terhadap identitas kita sebagai bangsa yang bermoral. Mari kita menjaga perkembangan generasi bangsa yang cukup rentan terhadap pengaruh buruk yang disebabkan oleh pancaran globalisasi budaya. Sehingga bangsa dan negara kita mampu menunjukkan integritasnya sebagai negara yang beragama.

SIAPA YANG HARUS PEDULI?

Oleh
Parel T. J.

Tergolongnya negara kita sebagai masyarakat agraris karena bergantung pada hasil bumi yang cukup melimpah, sempat membuat Indonesia dikenal sebagai Macan Asia seperti kata Prabowo Subianto. Tetapi dengan menurunnya ekspor karena pengaruh krisis multidimensi telah membuat nama itu tidak terdengar lagi. Bayangkan saja, kegiatan ilegal yang dilakukan terhadap sumber kehidupan bangsa demi kepentingan pribadi masih menjadi ciri dalam pemberitaan di berbagai media massa. Akhirinya kepunahan semakin merajalela dan sumber penghidupan terus dikikis oleh hak dan kepentingan oknum yang cukup lihai dalam bermain petak umpet dengan aparat penegak hukum.
Sudah sejak lama bangsa ini diajar dengan kehidupan moral, etika, bahkan disebut sebagai negara agamawi, tetapi prilaku, nilai, dan budaya yang merongrong kekayaan alam masih tetap terdengar. Dalam majalah KINGDOM edisi ke 5 bulan Mei 2008 disebutkan bahwa Indonesia memiliki terumbu karang terluas di dunia yang mencapai 600.000 km2. Sayangnya, trumbu karang di Indonesia saat ini dalam keadaan kritis. Hampir 18% trumbu karang di daerah Lampung dan Bali terancam punah. Selain itu, penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak, sianida, teknik mauro-ami, dan bahan kimia lainnya sangat merusak kelestarian dan kekayaan alam Indonesia. Padahal pemerintah telah mengeluarkan peraturan, antara lain UU RI No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolahan lingkungan hidup, UU RI No. 9 tahun 1985 tentang perikanan, dan Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1986 tentang analisis dampak lingkungan. Tetapi aksi pengrusakan terhadap lingkungan alam yang menunjang kelestarian sumber daya alam tampaknya masih berjalan mulus.
Ketika kita melihat luas laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2, pastinya kekeyaan sumber daya laut mempengaruhi perekonomian Indonesia. Jadi pertanyaannya, bisakah kita menciptakan Indonesia baru dengan beberapa kumunitas yang masih bertingkah apatis terhadap kesusahan bangsa ini?
Dalam beberapa dekade kepemimpinan selama lima tahun terdengar tawaran-tawaran yang berusahkan membawa Bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan semacam ini. Bahkan pemilihan kepala daerah yang kerap digelar sepanjang dua tahun terakhir ini, tawaran itu selalu nyaring berkicau di mana-mana. Falsafah otonomi daerah terus dikumandangkan hingga membelah langit, janji pemulihan dan berbagai mimpi pun diungkap bagai membuai sang buah hati dalam ayunan. Tetapi mengapa nilai dan perspektif yang bertindak secara egois dan sikap kurang peduli terhadap sesama tak kunjung berhenti menulis kisahnya dalam lembaran sejarah bangsa? Bahkan beberapa buronan yang terkait dengan kasus semacam ini masih senang menginap di balik jeruji besi. Belum lagi masalah ini berakhir, amukkan bencana alam serta ancaman pemanasan global semakin menjadi-jadi dan harga bahan pokok semakin meningkat. Kondisi ini membuat masyarakat selalu haus akan tokoh pemimpin yang bisa membela dan mencari solusi terhadap krisis multidimensi semacam itu. Sementara tak sedikit pemimpin bangsa yang tampil selama 63 tahun kemerdekaan RI untuk membuktikan janji-janjinya, tak sedikit pula kecaman dan aksi kekerasan yang mengguyur kepemimpinan mereka.
Kejadian ini sungguh mengundang kepedulian sejumlah penduduk dunia untuk angkat bicara sebagai bentuk keprihatinan global khususnya terhadap kekayaan dan sumber penghidupan bangsa yang semakin punah. Hal ini dipandang sebagai sebuah harta besar yang memberi sumbangsih maksimal bagi kemakmuran masyarakat agraris seperti Indonesia. Tetapi dengan terjadinya krisis multidimensi yang mensinyalir timbulnya kompleksitas dalam membudidayakan kekayaan alam Indonesia dapatkan bangsa ini melepaskan diri dari penjara kemiskinan yang melanda masyarakat Indonesia bertahun-tahun. Siapakah yang harus menunjukkan kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian berbagai sumber penghidupan dalam negara ini? Inilah ungkapan fakta yang membuat kita tak pernah berhenti belajar dan mengembangkan kecakapan moral dalam negara yang banyak mengandung manusia hebat, jebolan dari berbagai universitas terkenal.
Membangun kecakapan moral untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain seharusnya menjadi budaya suatu bangsa yang hidup dalam naungan Pancasila. Untuk itu, kesadaran dalam melihat kondisi bangsa yang semakin dibelit oleh sikap apatis harus mendorong kita membentuk generasi baru dalam wadah keluarga yang sadar akan kondisi bangsa kita. Suatu negara akan baik bila terdiri dari keluarga yang baik.
 
Support : Creating Website | Parel's Blog | Parel T. J.
Copyright © 2011. Parel's Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Parel T. J.